2 Apr 2010

Kini aku berdiri dalam penat..

Akupun tak mengerti,
Sepatutnya aku tak paham,
Apa yang membuat mereka semua tetap tegak,
Sementara aku disini terhempas angin yang sangat kencang,
‘dan tak lagi mampu bertahan..

Entah jalan apa yang kupilih ini,
Adakah seseorang yang mampu mengisi setiap penjurunya?
Bantu aku memilih,
Karena aku telah buta oleh segala makna yang membuatku gila.

Aku terus menunggunya,
Menunggu keberadaan, kedatangannya..
Namun tak sekalipun ia tampak dihadapanku.

Setelah semua bukit terjal,
Semua dinding yang terlalu tinggi dan kokoh ini,
beserta awan-awan hitam yang menutup pandanganku,
aku nyata tak mampu menyentuhnya ketika ia di depanku..

maka dari jauh,
dari tempat yang sangat amat jauh dari keberadaannya,
aku mencoba menikmati sisa-sisa kebersamaan itu,
menyimpannya erat..sangat erat, dalam hatiku,
agar dia dan kenangannya tak pergi terbawa waktu,
ya,
seperti dia yang selalu menyimpan rapat semua rahasia diri,
hati, dan juga hidupnya..

aku sangat nyaman memiliki perasaan ini,
meski aku harus melewati badai,
dan hantaman dunia yang mengacuhkanku dengan angkuhnya,
dan aku sekuat tenaga tetap berdiri dalam penat ini..

sudah terlalu sesak,
telah cukup penuh didalam sini..
dan bayangannya perlahan membunuhku,
lelahku mencoba ‘tuk tetap bertahan,
hanya sekedar untuk melihatnya,
sebatas tahu keadaan dan keberadaannya,
meskipun aku tak pernah berhak merabanya..
aku tak pernah boleh memiliki hari bersamanya.

Dan lelahku,
Selalu berdiri dalam penatku,
Cukuplah sudah hari-hariku yang kelam,
Untuk tetap kulanjutkan..

Tidak ada komentar: