20 Mar 2019

Mungkin

Kalimat itu selalu menjadi hal yang menyangkut di tenggorokanku
Seperti ombak tertahan batuan dan membuat sebagiannya tertinggal dan mengering

Selama ini diriku terlalu terlena oleh kesedihan, hingga tidak menyadari keberadaanmu
Yang (sebenarnya) tampak biasapun, membahagiakanku

Aku tidak pernah sempurna,
Apa arti sempurna jika itu membuat kita semakin susah untuk sekali lagi bertatap mata?

Aku memikirkan dia,
Tapi tanganku mengarahkanku untuk menjagamu.
Apa arti isi kepala jika hatiku menolaknya?

Apalah aku ini yang selalu merasa bodoh didepanmu,
Iya.. saat dalam satu mimbar bersamamu
Aku mengingatnya, hal termanis yang pernah kamu lakukan untukku
Perut selalu sakit mengingatnya, bibir tertarik ke kanan dan ke kiri, pipi bersemu merah
Sejak itu, kamu naik bertingkat-tingkat dari sana, tempatmu yang biasa.

Kata itu tidak akan terucap, dan aku selalu ingin menjauh
Kata yang sama, yang selalu aku gumamkan saat ingin mengutarakannya padamu
Kata yang seringkali urung aku sampaikan
Bersambut dengan kalimat yang sama setiap kali.

Iya,
Mungkin kita harus saling menjauh dari titik ini?
Mungkinkah kepala ini berpaling dan tidak menoleh lagi?
Mungkin saja kita kembali ke titik itu, belasan tahun yang lalu.
Saat kau bukan siapapun, aku bukan siapapun. Bagi kita satu sama lain.

Mungkin.

Tidak ada komentar: