No looking back, no more, not for anything.
This is what you wanted, isn't it?.."
Aku hanya mampu memandangi barang-barang itu. Tertata rapi didepanku. Acuh sepertinya padaku yang terus memandangi lekat satu per satu.
Dua koper besar dan tiga buah tas olahraga jinjing berukuran sedang yang semuanya berwarna senada, kelabu. Kelimanya penuh sesak dengan barang-barang yang entah apa saja dijejalkan kedalamnya. Sudah sejak dua hari yang lalu satu per satu tas itu berada di posisinya. Menunggu pemiliknya mengambilnya, dan pergi dari sini. Pergi yang jauh. Entahlah sejauh apa, belum sempat kutanyakan.
Tidak ingin kutanyakan. Benci sekali untuk menanyakannya, mengulang-ulang. Meski aku sudah tahu kemana perginya.
Tin tin..!
Klakson mobil yang menjemputnya sudah tiba. Fyuh, akhirnya tiba juga saat ini. Saat dimana tas-tas itu dan pemiliknya pergi meninggalkanku sendirian disini. Sedih sekali membayangkan apa yang terjadi setelah detik ini berlalu.
"..I'm trying hard to forget you,
But my empty walls won't let me let you go.."
But my empty walls won't let me let you go.."
Kami berpelukan sebentar dalam diam. Sikapnya yang biasa saja itu sebenarnya membuatku sangat marah, tapi kutahan. Tidak kutunjukkan. Dia tersenyum sambil berkata, "buruan lulus! I'll meet you 'there'.." sambil menunjukkan gigi-gigi rapi hasil dari tiga tahun behelnya. Sebentar saja dia kubantu mengangkat koper dan tas-tas kedalam mobil Toyota Avanza hitam yang akan membawanya pulang menuju kampung halaman. Waktu terasa sangat cepat sekali saat aku melihat mobil itu sudah melangkah pergi meninggalkan halaman rumah kontrakan kami. Meninggalkan sepi. Hanya aku sendiri sekarang.
"..There's nothing left of you to remind me,
But somehow you're still standing behind me.."
But somehow you're still standing behind me.."
Beberapa hari lalu kusempatkan menulis beberapa kalimat untuknya dalam sebuah surat. Berharap sekali surat itu dapat mewakili apa yang belum sempat aku ungkapkan kepadanya. Tapi hingga detik-detik kepergiannya, aku belum mendapatkan keberanian untuk menyerahkan surat itu kepadanya.
![]() |
| source : here (*with editing) |
"Bags all packed, make sure you remember everything,
No looking back, no more, not for anything.
This is what you wanted, isn't it?
No looking back, no more, not for anything.
This is what you wanted, isn't it?
Clear it out just like you've never been.
What's a goodbye good for, anyway?
There's nothing left of you to remind me
But somehow you're still standing behind me
I'm trying hard to forget you,
But my empty walls won't let me let you go,
When you took it all, you forgot your shadow.
You say you wish me well without you,
But something 'bout you tells me that you know.
But somehow you're still standing behind me
I'm trying hard to forget you,
But my empty walls won't let me let you go,
When you took it all, you forgot your shadow.
You say you wish me well without you,
But something 'bout you tells me that you know.
When you took it all you forgot, your shadow.
Hide all your photographs,
But I can feel you watching me.
How long does your memory last?
It's time I ought to be.
Moving on and getting over you,
I bet it looks like I'm not even trying to.
Here all alone, my past on the walls.
It's always there, too close, too much
The shape of something I can't touch
I turn, and find the shadow's grown
Those empty eyes I begged to stay
Are watching me from yesterday
You can leave me, can you leave me alone?
When you took it all you forgot, your shadow.."
(Samuel Tsui's song name "Shadow", thanks for the lyrics Sam)
Meskipun sudah tidak ada sesuatupun yang tertinggal untukku mengingatnya, aku akan selalu mengingat dia. Apapun yang ada di hidupku selama hampir dua tahun ini adalah tentang dia dan semangat yang diberikannya. Berat melepas, tapi harus. Berat melupakan, tapi itu perlu.
Seseorang memang kadang tidak meninggalkan jejak berupa sesuatu dan benda dihidupmu, tapi momen yang terciptakan saat 'keberadaannya' berada disekitarmu akan selalu membuatmu mengingatnya. Sesedikit, seburuk, sejelek, sememalukan apapun kenangan itu.
"E-mail sent!" begitu tulisan di layar PC ku. Kumatikan komputerku, dan kutarik selimut dengan penuh keyakinan akan mimpi indahku malam ini. Dia yang selama ini bersamaku, disampingku, memberiku semangat itu. Dia yang tak pernah lelah menceritakan tentang mimpi-mimpi tingginya. Dan aku, akan menertawakan pipinya yang berubah bentuk setelah behel itu dilepas. Aku yang diam-diam mengamini semua mimpinya. Dan tentang kami, yang harus terpisah karena perbedaan jalan hidup.
Well, disinilah. Seperti yang dia biasa bilang padaku, "manusia merencanakan matang-matang, Tuhan yang menentukan hasilnya! Sebaik dan seburuk apapun, itulah perjuanganmu!"
Thank God for this life. Really.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar