28 Nov 2013

Cinta, Kenapa Begitu Sulit?

Sudah lama rasanya bahasan-bahasan macam ini terpendam dikepala. 
Jejak tur bekasnya sih ada, tapi kenapa nggak pernah bisa diungkapkan di kalimat dan kata, itu yang masih bikin bertanya-tanya.

Sedikit geram rasanya dengan cara orang indo menyikapi sebuah kebijakan baru. Apalagi jika mereka menentang, ga sependapat dengan kebijakan yang diterapkan gitu. Cenderung mengedepankan emosi, kasar. Duh. Salah ga ya kalau aku sebut perilaku tersebut kurang berpendidikan? Kayaknya sih sah aja kali ya. Maklum, selama ini di pendidikan sarjana aku bukan aktivis kampus yang hobi menyuarakan pendapat dengan lantang sih. Jadi belum tau batasan apakah yang diperlukan untuk unek-unek macam ini.
Padahal kalau diinget, aktip di kegiatan mahasiswa ya aktip. Tapi kok urusan politik rada ogah, ya?
Hehe itulah alasannya jadi cupu bersuara lantang gini.

Atau, njenengan yang lagi baca, tau ndak? 
Infokan ke saya ya. Via sms, whatsapp, atau kalo nggak tahu kemana, bisa via komen dibawah. Asal nggak via shafarani, itu nama saya. Hehehehe :p

Hal-hal yang ingin saya bahas disini kebetulan lagi ada contohnya yang lagi 'hot'. Yakni pemberlakuan jalan searah oleh walikota terpilih baru Kota Malang, H. Anton.
Bisa dibayangkan, ada pro dan kontra terkait dengan kebijakan baru ini. Kalau sempet jalan ke daerah di lokasi kebijakan baru diterapkan, bakal kelihatan kalau ada beberapa pihak masyarakat yang ngerasa dirugikan dengan kebijakan Abah Anton -panggilan beliau waktu kampanye- yang menerapkan beberapa jalan protokol dan vital di kawasan pendidikan Malang dijadikan satu arah.
Spanduk penolakan, caci maki, hujatan, permintaan ganti rugi terpampang dimana-mana. Setidaknya itu yang aku denger dan baca, maklum belum pulang kampung ke Malang sebulan semenjak kebijakan diterapkan ini.
Heboh deh intinya.

Kalo dari sisiku, ada hal-hal yang setidaknya belum mereka lakuin, dan keburu melakukan aksi protes macem itu. Mungkin beberapa hal.ini menurut sebagian orang, terutama yang dirugikan, akan terasa buang waktu dan nampak bodoh sih. 
Tapi yah ga ada salahnya mengesampingkan emosi dan mulai mengintip serta mempertimbangkan hal macem ini:

1. Pahami dulu alasan diadakannya kebijakan ini.
Sudah jadi pandangan umum kalau sebagian besar akses jalan yang kini dijadikan satu arah merupakan jalan kolektor yang kelasnya sudah harus naik. Semenjak Batu menjadi sasaran wisata utama dengan Malang menjadi akses masuk utama jalan tersebutyang sekaligus jalur lokasi pendidikan sentral di Malang jadi padat. Sementara guna lahan yang ada tidak memungkinkan hierarki jalan ini mendapatkan promosi naik jabatan. Maka pemberlakuan satu arah dengan model akses melingkar adalah salah satu jalan keluar mengatasi permasalahan dari meningkatnya fungsi jalan tersebut. 
Intinya? Yo kuwi loh Kang, kemacetan, parkir on street, pertumbuhan dan pertambahan kepadatan penduduk, memaksa jalan menjadi sangat padat. Pemerintah sudah pasti ngerasa perlu melakukan tindakan preventif sebelum semua terlambat dan Malang semakin tak hentinya diolok-olok, "Kok macet siiiiyh? Kok panas siiyhh?" *alah

2. Tunggu efek positif-nya dengan bersabar
Yang namanya kebijakan baru tidak selamanya langsung kelihatan efek positif. Kebijakan yang ada masa kini kayaknya lebih disusun untuk memperbaiki dan mengarahkan pada pengembangan, bukan lagi menciptakan sistem baru. Lihat apa yang dilakukan Pak Jokowi pada Kota Solo, contohnya.
Dari sinilah aku ngambil pernyataan bahwa manusia Indonesia mengedepankan emosi daripada kepala dingin kalau menghadapi masalah yang berkaitan dengan materi yang dimilikinya. Maen protes lah, maen demo lah, maen bakar lah. 
So pasti ada yang nyangkal nih kata-kata macem, "emang situ pernah ngerasain kaya sini!? haah?!" nah kan emosi kan.
Hehehe.

Kalau aku perhatikan, sebagian besar subjek pemberi aspirasi dengan emosi yang sedang kubahas ini adalah pemilik fasilitas perdagangan jasa, sebagian besar. Mereka, bisa dilihat, merasa dirugikan karena berkurangnya pendapatan normal, dan merasa tidak mendapat keuntungan apapun dari kebijakan ini.
Boleh kusanggah?
Well Bapak dan Ibu, setidaknya...belum. Bukan tidak.
Allah tiada memberi beban yang hambaNya tak sanggup pikul, bukan?

Iya, aku juga alhamdulillah tahu kalau Rasulullah berkata bahwa 9 dari 10 pintu rezeki adalah dari berdagang. Dengan kata lain menurutku, jika seseorang telah mendedikasikan afiliasi hidupnya untuk melaksanakan perdagangan atau jual beli, dia haruslah cinta dengan okupasinya ini.
Cinta yang sepenuh hati, cinta yang hingga malam menjelang, cinta yang dikarenakan Allah, cinta untuk mendapatkan rizki yang halal untuk menghidupi orang-orang yang dihidupinya.

Kalau berkenaan dengan masalah kebijakan, sedang dimanakah cinta itu? Mengapa jadi begitu sulit?

Banyak yang bilang, cinta itu buta.
Sudah banyak bukti mengatakan, kerja dengan rasa bermain beda banget rasanya dengan main berasa kerja. Alasan utamanya ya jelas kecintaan itu sendiri terhadap sesuatu yang kita tekuni bukan?

Bukankah halangan itu Allah kasih buat menguatkan iman dan keyakinan kita bahwa rizkiNya tidak terputus hanya dengan berlakunya jalan satu arah di daerah Kecamatan Lowokwaru Kota Malang ini?
Astaghfirulloh. Maafkan apabila aku lancang berkomentar mengenai hal ini.
Tapi untuk satu sisi hati ini, mengapa jadi tertutup oleh emosi?

--pasti lagi-lagi ada yang bilang "emang situ tau rasanya?! haaah?!"--

2 komentar:

duniasketsa mengatakan...

aku garuk2 kepala bacanya :3 lg pengen baca yg blushing2.. ah ternyata judulnya doang yg blushing,, pas mbaca ngek :v soal one way di dinoyo ternyata.

padahal bagus banget lho di buat searah, angkot jadi lebi lancar, ga faham juga mengapa org2 pada protes,salah satunya krna keuntungannya berkurang,. dinoyo sering macet, macet emreka artikan rame, rme di artikan bisnis lancar :v ngek

ah mboh, emang kalo ga da rakyat model gini, negara kurang rame >.<

blueskyover mengatakan...

hehehehe mohon maaf sket. sudah kebanyakan postingan romantic berujung pada sendu sih.. jadi sekali2 postingan berjudul romantic berisi seru (nggak sendu) boleh kaan