Selayaknya guguran daun yang menanti kesetiaan angin untuk meniupnya,
sang penghantar yang akan selalu ada..
Sesimpel itulah cinta.
Semudah warna pagi berganti senja, rona malu-malu kemerahan yang manis,
berterimakasih pada sinar pagi surya yang menggantikan tempatnya selama sehari penuh..
Semudah itulah cinta.
Satu helaan nafas untuk menahan amarah, diujung kelelahan selepas kau bekerja.
Senyum itu masih terbagikan..
sesejuk itulah cinta meredakan hausmu.
Tapi,
memaksakan senyum kebohongan saat kau tak dapat menerima,
namun kau berkata "iya tidak apa.."
itulah letak pengorbanan cinta yang menyakitkan.
Berkata "aku baik saja..",
juga tidak pernah mengagumi sifat dan sikap dia yang selalu berlawanan dengan kebiasaan,
namun aku selalu tertawa mendengar candaannya.
Disini cinta membuat otak terbalik bagi semuanya..
Menggumam, tersenyum sendirian tanpa ada yang ingin berbagi,
bahkan selalu bertanya apa yang dilakukannya disana tanpa pernah mendapatkan jawaban,
karena bukan siapapun aku ini baginya.
Disitulah bodohnya cinta.
Pretending itu bukan apapun, tidak berarti apapun,
bahkan bukan merupakan sebuah hal yang penting bagiku,
disini aku sudah mulai bermain api dengan perasaanku sendiri.
Diakhir hari aku sadar bahwa ternyata cinta bagiku adalah menunggu.
Menunggu waktu..saat yang tepat. sekaligus melupakan dan menyembuhkan.
YEESSS, time will heal.
Let it be,
:)
2 komentar:
aku suka line yang "bagiku cinta adalah menunggu. menunggu waktu. sekaligus melupakan dan menyembuhkan." :)
iya yah aku juga..hehe..
sebenernya kayaknya itu yg jadi kalimat motivasinya, ndah! :D
Posting Komentar