"you are my mr. smile.."
Semangatku ada disana, hai kamu..
Untuk senyum itu, senyum yang kau sisipkan pada panjatkan doa syukurmu pada Tuhanmu setiap pagi.
Senyum yang sama, yang membuatku meredam seluruh amarah ketika aku membenci kesukaanmu pada hal yang --dengan lucunya-- tak aku sukai.
Hai kamu, aku tidak pernah memilihmu untuk masuk ke hidupku, ke hatiku. Sama seperti, selayaknya kehadiranku dihadapanmu yang pasti tanpa disengaja. Tidak sengaja juga, kalau senyummu menjadi satu bintang yang bersinar sangat terang, hampir seperti matahari. Menyengat sih, tapi membahagiakan. Terimakasih untuk menjadikan aku hal yang penting disaat aku tidak menyangkanya. Semoga bukan hanya bunga dari pikiranku saja..
"you are my mr. smile.."
***
Kami saling berpandangan dalam diam, dan dia tidak berkedip selama itu. Kertas yang tadi kubaca isinya masih kugenggam erat, sampai lusuh kuremas dengan gugup. Alih-alih menjawab pertanyaan, aku hanya terpaku didepannya tanpa bergerak sedikitpun. "Hey Aliya.."
"kenapa?" dia bertanya. Kepalanya sedikit miring melihat ekspresi wajahku, raut syok yang muncul setelah dia menyapaku.
"aku kemarin melihatmu menyanyi.." dia geli melihat ekspresiku yang tidak jelas saking kagetnya, "dan bergitar, itu kamu kan?"
"ya.. tapi itu kan acara amal untuk.."
"iya, aku panitianya lho," sambil tertawa, Mr. Smile memotong.
Kemarin aku tampil diatas panggung untuk sebuah acara amal bencana banjir yang diadakan di taman kota. Acara yang berkonsep "jalanan beramal" itu cukup sukses, terbukti dengan banyaknya dana terkumpul dari penyumbang yang notabene pengunjung taman dan --sepertinya-- pacar, sahabat, genk, juga keluarga dari pengisi acara.
Senyum itu. Dia memberikannya. Senyum yang sama, yang sepanjang kenanganku soal senyumnya, dituju selain untukku. Sebagai balasan, aku tersenyum semanis mungkin dengan harapan dapat membuatnya terkesan.
"suaramu bagus, Aliya. Aku penggemarmu, sungguh.."
Waktu serasa berhenti. Aku menahan napas dan tidak dapat berkedip beberapa saat.
"Hei.. Kenapa?" tanyanya lagi. Membuyarkan lamunan, juga mengatup mulutku yang sedikit menganga. Sebagai samaran sikap salah tingkahku, aku meringis selebar mungkin selama dia bicara dan menatapku.
Aku baru menyadari, ketika dia tertawa, hampir dua pertiga matanya tertutup. Itu membuatnya semakin tampan dan lebih tampan lagi dimataku.
Ah, Mr.Smile :")
Kami tadi berpapasan tanpa sengaja dilorong basement sekolah yang luas, tempat kebanyakan siswa menghabiskan waktu istirahat. Hebatnya, aku kalah telak dengan dia. Belum sempat mata ini mencari, dia sudah menemukanku dahulu.
Dan, woow. Mr. Smile tahu namaku, dia tahu aku, mengajakku ngobrol lho.. Hingga aku tersadar oleh lonceng yang menunjukkan jam istirahat berakhir.
Sampai terlupa akan gumpalan kertas --sekarang sudah benar-benar menjadi gumpal-- yang seharusnya aku dahulukan untuk dibaca. Sebuah memo singkat dari Mr. Samuel. Seorang pemusik yang kukenal saat coba-coba manggung di cafe seorang teman. Mr. Samuel berkata ingin mencoba merekam lagu dan suaraku di studionya. Kupikir tidak ada salahnya juga hobiku ini beralih ke jenjang yang lebih tinggi, kan.
"Meet me at the office after school end, Aliya"
Yuhu. Tidak sabar aku menunggu bel selanjutnya berbunyi.
*****
1 komentar:
Terima kasih atas informasi menarik
Posting Komentar