10 Mar 2019

Perlahan Mewujudkan Mimpi (1)

Waktu sudah menunjukkan sore hari saat shuttle bandara yang aku tumpangi dari kotaku memasuki batas dengan kota sebelah, lokasi bandara internasional propinsi. Jalanan lengang dan cenderung sepi, mungkin karena belum waktunya jam pulang kantor. Kulihat lagi jam tanganku yang tidak hanya menunjukkan pukul berapa seharusnya sekarang, tapi jumlah langkahku hari ini. Oke aku tidak mungkin terlambat. Masih panjang waktu untuk check-in dan kupikir masihlah sempat untuk mengisi perut yang semenjak pagi belum satupun merasakan kehadiran makanan.

Sore ini aku terbang menuju Tokyo, hari Kamis tengah minggu di bulan Januari yang hangat di kotaku. Dan pastinya hari Jumat yang sangat dingin Tokyo besok saat aku tiba.

Sudah sekitar enam tahun yang lalu terakhir kali aku menginjakkan kali di negara adidaya asia itu, semenjak student exchange program dari jurusan sekolah S2 yang mengantarkanku ke Jepang dan berada disana kurang lebih tiga minggu. Mirip konsep summer school karena durasinya yang sebentar dan saat itu memang sedang musim panas.
Well, semenjak saat itulah aku bertekad ingin kembali lagi ke Jepang suatu saat untuk merasakan musim yang lain dari negara ini.

And here I am now! Siap bertolak menuju negara yang sensasinya selalu aku rindukan itu.
Ssst, jangan bilang siapapun ya? Aku merindukan suasana Jepang karena inilah satu-satunya negara yang pernah aku kunjungi dengan visa sebagai syarat masuknya. Satu-satunya negara pula yang pernah aku kunjungi dengan musim yang lebih dari dua musim seperti negara kita.
Ditambah lagi, keinginanku enam tahun silam saat berkunjung kesana adalah ingin kembali lagi di kondisi yang lebih baik, lebih senggang,  hanya untuk liburan dan menikmati suasana di musim yang berbeda.

Lihatlah betapa baiknya Tuhan, yang mengizinkanku akhirnya menginjakkan kaki kesana lagi sesuai dengan keinginanku dulu. Persis. Mungkin itulah maknanya orang-orang bilang Tuhan akan mewujudkan keinginanmu jika kamu sabar. Hehe. Berarti aku harus bersabar lagi untuk mewujudkan keinginanku satu lagi, yakni membawa Mama, orangtuaku satu-satunya, pergi umroh denganku. Semoga kesabaran untuk hal itu tidak harus membuatku menunggu selama enam tahun ya. Aamiin.

Kendaraan shuttle car ini sudah memasuki terminal internasional, yang mana artinya giliranku untuk turun. Ransel sudah ku bawa di punggung bersama satu buah koper perlengkapanku berperang dengan suhu rendah di Jepang nanti. Tadinya ransel ini juga rencananya mau aku penuhi dengan kebutuhan badan akan kehangatan. Tapi Mama berpesan, sebaiknya bawa yang paling tebal saja satu jaket cukup (dengan gaya mantap beliau yang biasa), dan akhirnya membuat ranselku sedikit kosong karena hanya berisi sebuah jaket parka dan peralatan memotretku saja.
Nah bicara soal peralatan memotret, ternyata agak ribet juga ya kalau bawa tripod kedalam kabin pesawat. Karena setelah menuju ruang tunggu, aku harus balik lagi ke konter bagasi untuk memasukkannya menjadi bagasi. Hal sepele ini terjadi dikarenakan tripod adalah barang yang izinnya sangat terbatas untuk bisa dimasukkan kabin.
Well per-tripod-an ini cukup menyita waktu juga, karena saat aku kembali ke ruang tunggu ternyata sudah hampir memasuki jam boarding.

Oh iya! Hampir terlupa, aku melakukan perjalanan liburan musim dingin ini bersama salah seorang kawan yang aku kenal akrab dari masa kuliah S2 ku. Dia junior di kampus sehingga lebih muda beberapa tahun dibawahku. Kami cukup akrab karena tiga tahun yang lalu kami juga melakukan perjalanan keliling Asia Tenggara, bersama dengan lima orang kawan kami yang lain. Namanya Hani, gadis yang aku tahu sangat periang dan mungkin kalau kisah perjalanan kami ditulis bentuk buku, bisa dijadikan dua atau tiga novel hahaha. Kami berangkat dari bandara yang sama karena memang aku dan Hani berasal dari propinsi yang sama.
Perjalanan kali ini jelas memang Hani pahlawannya. Kau akan tahu alasannya kenapa, nanti saat part demi part cerita ini kutulis lengkap.

Kami menggunakan maskapai milik negara tetangga, sehingga kami harus transit sebentar di negara tersebut untuk lanjut ke Jepang. Waktu boarding sudah lewat setengah jam dan tidak ada tanda pesawat kami akan boarding. Seharusnya saat magrib kami sudah di atas awan tetapi hingga adzan berkumandangpun, kami belum mendapatkan kabar.

Saat kami putuskan untuk sholat magrib, di mushola ruang tunggu kami bertemu dengan seorang gadis lain yang satu pesawat dengan kami. Dia tetiba mengajak kami makan malam karena kata dia gerai makanan berat di ruang tunggu ini punya batas minimal pembelian menggunakan kartu gesek. Aku iyakan ajakannya, yang berakhir kami ngobrol cukup lama dengan gadis ini.

Aku dan Hani cukup kaget dengan cerita si gadis dari ibukota yang sedang makan malam bersama kami ini. Dia seorang mahasiswa baru, masih semester dua fakultas kedokteran di salah satu universitas negeri ibukota propinsi. Dia sudah menikah dan suaminya sedang berobat di negara tetangga tempat kami transit ini. Aku dan Hani saling lempar lirikan yang artinya cuma satu, kisah hidup si adek ini cukup mewarnai keberangkatan kami ke Jepang.
Saat pesawat lepas landaspun kami tidak perhatikan dimana duduknya si gadis calon dokter ini. Kami sudah cukup waswas karena takut ketinggalan pesawat menuju Jepang yang jarak transitnya cuma tiga jam saja dari jam landing kami semula.

Tepat saat kami masuk ruang tunggu keberangkatan menuju ke Tokyo, panggilan boarding barusaja masuk di layar petunjuk. Belum sempat mengagumi betapa canggihnya bandara internasional negara tetangga ini, saya sudah berada di pesawat menuju Jepang.
Dengan durasi perjalanan udara yang cukup panjang yakni tujuh jam, pesawat yang kami tumpangi cukuplah membuat kami berdecak kagum. Meski kelas ekonomi kami merasa sangat nyaman berada di pesawat ini. Apalagi Hani yang kebetulan mendapatkan tempat duduk kosong disebelahnya sepanjang perjalanan. Hani si tukang tidur itu, menikmati malam perjalanan udaranya menuju musim dingin dibelahan utara asia, kota Tokyo.

Aku habiskan tujuh jam itu untuk menonton film, memutar album musik lagu favoritku di playlist yang disediakan maskapai, dengan mulut tak henti bersyukur dan berdoa.. Tuhan terima kasih untuk mimpi yang Kau izinkan terwujud sebentar lagi ini. Aku sempat diam sejenak, berulang kali meneteskan air mata, terharu oleh perjalanan ini, yang mana sesi senduku terus menerus diinterupsi oleh para pramugari. Meski perjalanan udara kami lakukan tengah malam, kami masih difasilitasi dua kali makan berat dan sekali cemilan. Bagaimana bisa tidur kalau sebegini sering kami diberi fasilitasnya? Hehe.

Tak hentinya aku bersyukur untuk ini. Hingga subuh tiba, dan kami bersiap mendarat di Jepang.

Sepuluh Juta Detik Luka

Panjang sekali jalan yang harus ditempuh untuk mencapaimu
Pun itu tidak gampang, banyak nyawa terkorbankan dan luka hati tergores menujunya

Saat sudah kutempuh dan kau kutemui, aku tersadar
Hati ini tidak seharusnya tertinggal kurus disini
Hati ini tidak perlu setinggi itu mengangkat dan menjunjungmu
Karena ternyata...kau hanya persinggahan labilnya isi kepalaku

Aku memutuskan untuk mengalah dari suara dalam penuh sesaknya isi kepala
Dan sepakat dengan suara yang lain dalam kepala
Iya.. inilah caraku mencintaimu

Wow sejauh ini dan aku baru mengetahuinya?
Menyesakkan sekali!
Dan sekuat apapun aku menolaknya...aku masih memilih untuk bertolak padamu
Lihatlah betapa bodoh aku kau buat

Kadang, hari-hari biasa aku ingin menceritakan semua padamu
Hari berakhir, dan tenggorokanku tercekat dengan kepala penuh bimbang padamu
Sambil berpikir
Haruskah aku berbagi perjalanan sepuluh juta detik denganmu?
Sementara mungkin, kau ingin membagi ceritamu bukan denganku
Iya, bukan denganku kau ingin membaginya
Iya, aku bukan pilihanmu untuk bercerita
Dan aku pergi mencoba menjauh darimu
Dengan perlahan tumbuh rasa rindu yang menyakitkan
Hanya untuk melalui hari ini tanpa sederhanamu di jenjang waktuku

Aku ingin melupakanmu...membuatmu jauh... agar aku tidak terluka
Berusaha sangat keras untuk lupa
Sama kerasnya dengan jemari ini mengabadikanmu dalam kepalaku

Kamu bukanlah siapapun..
Dan tidak seharusnya menjadi seseorang dalam sepuluh juta detikku
Tapi detikku memilih untuk terus membimbangkanmu.

Dan disini sekarang aku dengan gila merasa rindu
Rindu yang tidak akan pernah mampu aku utarakan

Nyawaku hanya satu
Hidupku cuma satu
Dan..
Sepuluh juta detiknya ternyata untukmu.

23 Nov 2018

Jalan Sebentar Ke Melaka

Assalamualaikuuuuum.

Alhamdulillah, akhirnya ada bahan untuk diposting lagi. Haha.

Awal tahun ini saya dan seorang karib yang memiliki nama belakang mirip karena kami berdua lahir di bulan dan tahun yang sama, si Indah, memutuskan untuk jalan-jalan ke Malaysia.

Sebenernya udah dari lama sih kami membicarakan tentang rencana receh ini. Udah dari kapan itu entahlah ya... yang pasti karena kami anti-wacana, rencana ini kudu diwujudkan dalam tempo sesingkat-singkatnya. Alhamdulillah sekaleee karena Inde (begitu aku memanggil si Indah) juga anaknya easy going anywhere anytime, jadilah kita ambil hari Libur Paskah di tahun 2018 ini sebagai titik keberangkatan kita untuk menuju negeri jiran. Kami merencanakan 3 hari saja di Malaysia (30, 31 Maret dan untuk 1 April saya dan Indah sudah otw balik). Iya iyaaa.. pasti dibilangnya bentar banget. Ya mau bagaimana lagi? Susah cari waktu lagi pemirsaa.. hehehe.

Oke.Tujuan kami adalah Melaka, satu kota tua di sisi barat daya negara Malaysia. Melaka ini tersohor karena keindahan arsitektur dan gaya bangunannya. Udah lama kami ngempet untuk menuju kota tua itu, dan alhamdulillah kesampaian.

Kami mengambil paket penerbangan yang disediakan maskapai kebanggaan negara Malaysia yakni Malaysia Airlines untuk moda berangkat dan pulang kami. Terbang dari Bandar Udara Juanda Surabaya kami take off  sekitar pukul 10.00 dan tiba di Kuala Lumpur Airport sekitar pukul 13.40 waktu Malaysia, yang berarti perjalanan kami sekitar 3 s/d 3.5 jam di udara.

Lancar dan tanpa hambatan perjalanan berangkatnya, plus kenyamanan pesawat skala nasional yang mana dapat bagasi, dapat in-flight meal, dan juga sempet banget saya nonton film terfavorit dalam kurun waktu 3 bulan ini - The Greatest Showman, dari awal sampe habis. Haha ya meski harganya agak merogoh kantong juga sih, tetep lah Alhamdulillah.
The Greatest Showman
Sampailah kita di negeri Jiran sekitar jam 2 siang waktu Malaysia. Langsung order Grab Car dari pintu kedatangan. Ga lama datenglah si abang Grab dengan mobil sedan mentereng yang siap membawa kami ke arah downtown Kuala Lumpur untuk cek in di hotel yang sudah kami booking jauh hari sebelumnya.
Grab Car kami melaju menuju KL

Singkat cerita, kami sampai di hotel dan kami memutuskan untuk tidak berlama lama ambil break karena berencana main ke Batu Cave dan waktu sudah menunjukkan pukul 3.30 sore waktu Malaysia ketika kami berangkat menuju Batu Cave. Menurut Wikipedia, Batu Caves terletak 13 km dari ibukota Kuala Lumpur. Cara termudah untuk mencapai Batu Caves adalah dengan menggunakan kereta komuter dari stasiun komuter KL Sentral, dengan tarif 2 RM untuk satu kali perjalanan. Anda juga dapat menggunakan taksi, dengan tarif sekitar 20-25 RM dari KL Sentral. 
Benar adanya, sekitar 40an menit kami perjalanan menuju Batu Caves dari hotel menggunakan Grab Car yang kami tumpangi. Plus, jam-jam inilah jam sibuk di Kuala Lumpur karena memang sudah waktunya pulang kantor dan hari ini bukan publc holiday bagi warga Malaysia.


Kera Batu Cave


Indah mainan sama Merpati di Pelataran Bawah Batu Cave


Setelah dari Batu Cave (kami naik sampai atas lhoo.. hahahaha), kami lanjut naik Grab kembali ke kota Kuala Lumpur untuk janjian bertemu dengan mba Citra yang sudah tiba di Kuala Lumpur sorenya. Iyaap.. kami bertiga kali ini jalan-jalannya. Aslinya berempat sih, tapi teman kami yang satu lagi, si Desy tiba-tiba terkena musibah yang kurang enak, jadi memutuskan untuk batal ikut kami ke Malaysia berkunjung ke Melaka.

Lanjut, kami sampai di Dataran Merdeka, waktu sudah menunjukkan pukul 17.30 (kurang lebih) dan awan mendung mulai menyelimuti matahari senja sore itu. Sedikit berfoto disana dan sini, seperti didepan KL City Gallery yang memang sudah tutup (padahal kami ingin coba cafenya itu), dan juga bangunan-bangunan yang mengelilingi Merdeka Square atau Dataran Merdeka.

Jejak Indah Di Dataran Merdeka

Indah di Depan KL City Gallery
Ketika kami beranjak menuju stasiun terdekat untuk menuju Twin Tower, hujan deras tiba-tiba turun. Kami sibuk berlari mencari tempat berteduh. Sambil terus melacak lokasi stasiun terdekat. Sayang banget kan kalau harus naik grab lagi. Terlalu kelewatan fancy nya nanti jalan-jalan ini. Hahahaha.
Setelah melalui hujan deras dan tersesat kesana kemari, kami akhirnya berhasil naik KRL menuju ke Twin Tower. Disana aku dan Indah sudah janjian untuk menunggu Mba Citra.
Kami keluar dari exit Barat Laut untuk berfoto dengan Twin Tower. Dan yes, ini pertama kalinya aku mengambil foto Twin Tower dari sisi sebaliknya. Biasanya kan turun stasiun langsung ke arah timur, atau KLCC Park. Nice to know other side dari menara kembar ini.. cantik juga kok untuk berfoto.
Mba Citra Nunggu Mas-Mas Tampan
Gantian Indah yang Nunggu Mas - Mas tampan hahahaha
Bukti bahwa kami bertiga bener-bener kumpul depan twin tower. 
Karena sudah kelelahan belanja coklat dan barang-barang titipan Indah lain di KLCC, kami memutuskan kembali ke hotel dengan intercity train. Lagi-lagi pemirsa, ketika sampai di KL sentral kami tersesat, karena salah memilih exit di sisi sebaliknya dari KL Sentral. Menyebabkan kami harus jalan agak jauh untuk menuju ke hotel. Haduuh ini semua mungkin salah saya yang mengarahkan jalan plus ditambah dengan GPS yang benar-benar acak... Maafkan saya teman-teman.

Begitu sampai area dekat hotel, kami putuskan untuk beli makanan sekaligus mencicipi kuliner sekitar hotel. Kami mampir di Nasi Lemak Royale yang rasa makanannya bisa dibilang Malaysia banget. Haha. Kami pesan nasi lemak (kayanya mba Citra ga makan deh, on diet maybe hehe).
Setelah makan malam, kami putuskan untuk segera kembali ke hotel karena besoknya kami harus berangkat sangat pagi menuju Terminal Bersepadu Selatan untuk menuju Melaka.

Pagi harinya jam 8 kurang lebih kami sudah selesai sarapan, kami bertiga lanjut pesan grab menuju Terminal Bersepadu Selatan, karena disanalah bis menuju Melaka ada. Kuala Lumpur hujan lumayan deras pagi itu, alhasil kami yang awalnya ingin menggunakan intercity train ke KL Sentral urung dan memilih naik Grab saja karena harganya hanya terpaut beberapa ringgit jika dibagi orang tiga. Hehehe.

Begitu sampai TBS atau Terminal Bersepadu Selatan kami langsung menuju loket-loket bis yang  bagaikan menyambut kami di pintu masuk terminal. Loket umum yang bukan non-loket bus tertentu ini  berjajar rapi banyak, dan kita bisa menggunakan loket mana saja yang buka untuk membeli tiket ke berbagai tujuan. Pagi ini terminal nampak sangat ramai, entah karena memang biasanya begini, atau sedang peak season untuk pulang. Pukul 8.30 pagi kami mulai antre untuk beli tiket bus. Begitu antreannya sampai pada baris paling depan, kami kehabisan tiket untuk 3 jam kedepan. Akhirnya kami putuskan beli tiket dengan jam terdekat yakni jam 12, yang berarti harus menunggu sekitar 2.5 jam di TBS.

Loket Umum untuk Bis ke berbagai tujuan

Tiket ku ke Melaka
Perjalanan agak panjang kami lalui ke Melaka, sekitar dua jam lebih menuju Melaka dengan bus ini. Kami tiba di terminal Melaka, dan langsung memutuskan untuk memesan Grab menuju ke Ee Ji Ban Chicken riceball karena perut kami sudah sangat lapar dijalan. Saat sampai di Ee Ji Ban, antreannya sangat mengular sodaraa...huhuhu. Akhirnya kami memutuskan membeli makan nanti saja, dan memulai petualangan di Melaka.
Tidak jauh dari Chicken riceball kami berjalan menuju ke Benteng A Famosa. Jalan kaki sejauh 650 meter saja ke arah barat dari Ee Ji Ban, dengan cuaca sore hari Melaka yang sangat menyengat. Perjalanan hari itu tidak akan aku lupakan. Haha.
Mba Cit berpose Depan Mall Dataran Pahlawan Melaka
Dataran Pahlawan dengan Mall Junction dibawah dataran atau lapangan ini
Proclamation of Independence Memorial Museum
A Famosa
Cukup foto-foto di depan museum kemerdekaan dan Benteng Famosa, kami lanjutkan berjalan mendekati core-nya Melaka, The Stadthuys. Ga jauh sih, tapi aku merasa cepat sekali lelah disini. Disamping cuaca yang sangat amat panas saat itu, banyak sekali pengunjung di area Kota Tua Melaka ini. Pantes ya tiket busnya kok lumayan perjuangan. Haha.

Kelelahan dan kepanasan ini semua terbayar lunas oleh pemandangan ala kota tua yang disuguhkan Melaka ke kami. Kolonialnya dapet banget. Alhamdulillah masih sangat terawat dan beberapa sudut gedung masih aktif digunakan selain sebagai destinasi wisatawan. Saya suka sekali main ke Melaka!

Disamping Museum Seni Bina Malaysia

Sisi Kiri gambar: Christ Church Melaka
Sisi Kanan gambar: The Stadthuys
Tengah Belakang gambar: Melaka Clock Tower

Ga afdol kalau ke Melaka ga mampir untuk duduk-duduk di Melaka River Walk dan mencicipi berfoto bersama bagusnya mural mural yang ada di dinding-dinding rumah penduduk Melaka River. Jadi setelah kami berhenti sebentar makan es duren dan es semangka, kami lanjutkan perjalanan ke mural street art Melaka.
Melaka River View

Mural Street Art of Melaka
Tidak lama dari mural street art, kami bergegeas karena jam menunjukkan pukul 5 sore saat kami kebingungan pesan Grab untuk kembali ke terminal Melaka. Kami sedikit takut tidak keburu dapet Bus karena kawatir terjadi hal yang sama dari saat kami berangkat. Untungnya aman-aman saja, kami mencari tiket bus kembali yang tanpa menunggu lama. Cukuplah waktu menunggu bus kami pakai untuk sholat dan juga mampir McDonalds membeli makanan cemilan perjalanan karena memang kami belum ada makan sama sekali dari setelah sarapan di hotel.
Begitu sampai di TBS, kami langsung berpindah ke intercity train dengan sedikit tanya sana sini (karena memang papan penunjuk tidak terlalu jelas ada di lantai berapa intercity train stationnya berada).
Pukul 9.30 malam kami sampai kembali di KL Sentral dan bergegas menuju hotel. Karena besoknya saya dan Indah dijadwalkan terbang kembali ke Indonesia pukul 7 pagi yang artinya sebelum subuh kami harus sudah berada di KLIA. Disitu kami berpisah dengan Mba Citra yang ternyata mengambil jam terbang sore hari. Beliau mengatakan akan berjalan keliling KL sendirian setelah kami pulang. Karena kamar yang berbeda, kami berpamitan disitu dengan Mba Citra.

Perjalanan kembali kami alhamdulillah aman dan tepat waktu hingga kembali ke Juanda Surabaya.

Wow. What a supershort journey.
Can't wait for another journey with them!


Semoga saya masih bisa jalan-jalan dan menulis lagi disini yaa.. aamiin