| Yogyakarta - Pastabanget Signature's Candle - 2016 |
Sambil memandangi wajahnya, aku meneteskan air mataku.
Mencari yang belum inginnya kucari..
Aku meminta pada Dia Yang Maha Segala untuk tetap menjagaku,
tapi dari apa?
Aku takut aku tak tahu itu apa.
Ya, aku terkadang merindukannya.
Merindukan sosok itu, sosok kepercayaan hati dan kepalaku.
Meski singgasananya sedang kosong, anehnya aku tak sekalipun ingin membiarkannya terisi.
Iya, aku menunggu hingga perasaan sakit ini pergi.
Menangis dan terus meneteskan air mata.
Kodratku untuk hak yang bisa kuutarakan hanya mampu sampai sebatas ini.
Sepanjang waktu aku hanya bisa mendoakan kebahagiaannya.
Melihatnya dari jauh tanpa bisa aku meminta untuk mendekatinya..
Bahkan ataupun meminta dia menjadi lebih dekat dari biasanya.
Aku membiarkan perasaan ini kujejalkan dengan sesaknya dalam liang dasar hatiku.
Memaksanya untuk mati.
Yang sebenarnya aku berjuang sempat....untuk membiarkannya tetap hidup.
Hanya sampai sebatas membahagiakannya, juga membahagiakan hatiku,
hanya untuk agar membiarkannya tidak bertanya..
Aku hanya mampu menyembuhkan luka luar..
sementara luka separah patah dalam hati dan kepala ini, aku tak tahu harus membuatnya menjadi bagaimana.
Apa yang harus aku tanyakan pada dunia untuk membuatku benar,
sementara aku tak tahu apa yang membuatku hancur...?
Pilu. Bodoh. Salah.
Itu saja yang bisa kupahami pada diriku. Itu saja yang bisa kupahami tentang lukaku.
Selebihnya? Darah berceer dimana-mana, tanpa kurasa sakitnya kenapa.
Betapa susahnya mengingkari kepala bahwa ini semua baik-baik saja.
Menyakiti diri sendiri seringkali aku mencoba menyimpulkan jawabannya.
Membakar diri sendiri agar lebih menjadi berarti, seperti lilin yang berusaha agar tetap bercahaya.
Meski akhirnya tujuan dia ada agar mati.
Yang akhirnya pilihan itu hanyalah, menunggu hingga lukanya kering.
Lalu aku melangkah lagi.
Lingkaran untuk rindu lagi, cinta lagi, luka lagi.
Kebodohan untuk lubang-lubang ranjau yang berulang.
Semua ujung samudera usia yang aku lalui, hanya untuk bertemu dengannya.
Untuk mencintainya tanpa ada lubang luka.
Segala hutan rimba kesenangan dan masa muda aku libas habis, hanya untuk melihat sosoknya.
Iya, aku ingin selalu membahagiakannya.
Selalu-ingin-membuat-dia-merasa-semua-baik-saja.
Hanya agar membuat dia tidak bertanya,
"kamu kenapa?"
Karena aku pun tidak tahu apa jawabannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar