Apa kamu pernah ada diposisi dimana dunia menyalahkan kamu atas apa yang nggak kamu lakukan? Terkadang ngelakuin hal yang menurut kita benar, tapi menurut orang enggak, kita dibilang salah.
Hidup kan cuma perjalanan, kakinya ya kaki kita sendiri, arahnya yang tentukan ya kita sendiri. Adalah wajar menganggap sesuatu hal didepan kita secara subjektif. Kalau kita mau melakukan suatu kebaikan, udah dari sononya pasti ada yang nentukan dan menilai itu baik atau enggak. Amalan, Sedekah, Zakat, Menolong orang tua, membuang sampah ditempatnya.. Norma-norma yang dari awal kita didoktrin untuk menilai itu "baik".
Bukannya setiap amalan baik tidak perlu dikomentarin?
Bukannya amalan-amalan baik tidak perlu diperlihatkan?
Nggak, aku nggak bermaksud menyidir siapapun di post ini. Ini adalah sedikit refleksi dari diri. Hendak apa, dilarang apa, harus bagaimana.
Aku banyak belajar dari titik ini, ketika aku merasa iri akan pencapaian seseorang, itu tandanya aku belum mampu memiliki apa yang dimiliki orang yang menjadi obyek iri-ku. Tapi bukan berarti aku harus mengikuti apa yang dicapainya. Nggak..
Buat kawan-kawan yang sedang membaca postinganku,
Apa kalian sering membicarakan seseorang? Ya, kebanyakan akan menjawab IYA.
Maka kusimpulkan kalian sering membicarakan seseorang dibelakang orang tersebut.
Namun, adakalanya bukan semua hal yang diperbincangkan itu jelek kan?
Jadi, apakah segala hal harus langsung di-suudzonkan? Jawabannya enggak.
Lha kalau kita sedang membicarakan kebaikannya? Sifat baiknya? Kebiasaan baiknya?
Maka merugilah waktu yang dibuang untuk suudzon,
gitu kan.
He he he.
gitu kan.
He he he.
Hidupmu itu hidupmu, kadang kamu melihat/menoleh sekilas ke samping melihat mereka yang berjalan bersamamu. Disaat itu kamu patut berucap syukur atas apa yang kamu dapat. Atas segala yang terjadi padamu, dan segala hal buruk yang Dia hindarkan agar tidak terjadi padamu.
Hanya dengan bersyukur kau akan merasa kaya. Meski hanya tertinggal Rp.1.000.- di kantong.
Dengan bersyukur kamu merasa sempurna, karena Dia menciptakanmu sempurna seperti yang diinginkan-Nya. Meski nggak seperti yang kamu inginkan. Karena pada kurun waktu itu, kamu terlalu sering melihat kesamping, atau keatas.
![]() | |
| Apa yang membuatmu merasa "kurang"? (thank's Chin, this picture from him) |
Lihatlah positifnya, dari nyawa yang menempel pada tubuhmu itu. Lihat kemungkinan yang terjadi, lihat anugerah yang belum juga kau ucap syukur pada-Nya. Hitung.. Bisakah kau hitung?
Kalau aku sih, belum bisa. Jari dan otak ini nggak akan pernah mampu mengkuantitaskan anugerah-Nya dalam bentuk angka.
Jadi, untuk kamu yang sedang memandang rendah aku. Memandang rendah kemampuanku. Berbicara tentang hal yang tidak patut dibicarakan dibelakangku...
Aku hanya ingin menyampaikan permohonan maafku, karena aku sedang tidak dipihakmu.
Maaf, kalau aku membuatmu kecewa. Atau tidak puas, atau merasa dirimu tidak sempurna karena adanya diriku.
Pardon me. Maaf ya.. =)

1 komentar:
Siapa menabur angin akan menuai badai...
Probolinggo
Posting Komentar