27 Des 2010

menggantungkan diri pada benang yg terbang..

mimpi, dan apa yang terlihat di depan mata.
menumbuhkan galau dan membuat riya itu makin tinggi

aku memaksa untuk melihat langsung pada matahari
melawan apa yang selama ini aku takuti,
takut akan rinduku yang berlebihan padamu. rindu itu yang membunuh akal ku
rindu yang sama juga membuatku terus menegakkanmu di otakku,
meski waktu seharusnya sudah membuatnya lapuk
rindu akan kasih sayang yang berlebihan, dan kasih yang tidak pada tempatnya

dan bukan tidak seharusnya aku merasa memberimu ruang untuk bebas berkreasi
sementara aku terpuruk dalam kondisi membuat otakku hanya dapat bergerak
dan kemudian terinjak oleh pemikiranmu
akhirnya ketika kamu berbalik, aku hanya bisa jatuh
dan jatuhku tanpa daya. tak tahu harus melawan dengan cara apa
karena semua kelemahan yang kupunya bertumpu ditanganku

apa yang kau berikan padaku?
setelah semua ini kuberikan padamu?
adakah kau ngerasa pengorbananku lebih dari apa yang kau pinta?
aku terlewat bodoh karena berkawan dan memberi hati padamu
orang yang tak pernah menghargai arti sebuah tangisan
yang tak pernah tahu betapa rasa sakit ini tak pernah dapat terbalaskan

tapi tak apalah, karena mungkin aku juga ternyata egois pada yang lain
aku juga mengorbankan yang lain untuk membuat diriku berkorban untukmu
bodoh, tapi ini terlihat seperti siklus kan?
siklus yang nanti pastinya akan tiba pada giliranmu juga
tak akan aku mengharapkan atau berdoa apapun saat waktu itu tiba

aku tahu, karma memang ada. dan aku merasakannya sepanjang hidupku.
aku merindukanmu, merindukan sebuah keberadaan, utamanya dirimu
namun itu adalah hal paling bodoh, dan aku pilih tuk tetap jadi lebih jadi dungu
bertahan pada kerinduanku. mencoba terus mencari sisi indah dari rasa ini
meski aku berkata aku menghapusmu, kenyataannya lukisan dirimu tetap ada
kenyataannya? yah aku mencintaimu lebih dan lebih dari yang sebelumnya

menjadi bodoh, ternyata itulah indahnya.

Tidak ada komentar: