Aku ingin seperti matahari
Sendiri saja di hadapan bumi ini
Tapi apa matahari punya cinta ?
Apa dia punya hati ?
Sesuatu yang selalu ingin disayangi
Tidak, matahari adalah matahari
Aku ingin menjadi gunung
Tegar, kuat melawan tempaan badai sekalipun
Tapi, apa gunung punya rasa iba ?
Adakah dia punya kasih sesama ?
Hal yang jiwa bening ingin miliki
Mereka tidak memilikinya
Lalu, aku harus jadi apa ?
Jadi – seperti – apa ?
Ah, bagaimana kalau jadi pohon ?
Berguna walau kadang hal itu membebani dirinya sendiri
Membebani dirinya sendiri… hh…
Tidak adakah yang ingin jadi debu ?
Bergerak ke sana kemari
Ikuti arah angin yang tidak akan berhenti
Apa… apa gunanya debu ?
Dia merugikanmu
Tidak, bukan debu
Ehm… kalau angin ?
Dia tidak akan berhenti sejenak di sini menikmati hidup
Karena dia sendiri masih terus mencari jati dirinya
Apa lagi ? bintang ?
Kenapa hanya dalam kegelapan saja kau terlihat ?
Tidakkah kau rindu pada terang dan sejuknya pagi ?
Aku suka pagiku…
Seperti buliran darah, terus mengalir
Aku ’kan selalu rindu pagiku
Mana pernah aku berharap seperti bintang ?
Suatu saat bintang akan jatuh
Entah kapan dia ‘kan kembali lagi
Pernah berpikir jadi ombak ?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar