20 Nov 2009

Aku Rindu Pagiku


Aku ingin seperti matahari

Sendiri saja di hadapan bumi ini

Tapi apa matahari punya cinta ?

Apa dia punya hati ?

Sesuatu yang selalu ingin disayangi

 

Tidak, matahari adalah matahari

 

Aku ingin menjadi gunung

Tegar, kuat melawan tempaan badai sekalipun

Tapi, apa gunung punya rasa iba ?

Adakah dia punya kasih sesama ?

Hal yang jiwa bening ingin miliki

 

Mereka tidak memilikinya

 

Lalu, aku harus jadi apa ?

Jadi – seperti – apa ?

Ah, bagaimana kalau jadi pohon ?

Berguna walau kadang hal itu membebani dirinya sendiri

 

Membebani dirinya sendiri…  hh…

 

Tidak adakah yang ingin jadi debu ?

Bergerak ke sana kemari

Ikuti arah angin yang tidak akan berhenti

Apa… apa gunanya debu ?

Dia merugikanmu

 

Tidak, bukan debu

 

Ehm… kalau angin ?

Dia tidak akan berhenti sejenak di sini menikmati hidup

Karena dia sendiri masih terus mencari jati dirinya

 

Apa lagi ?             bintang ?

Kenapa hanya dalam kegelapan saja kau terlihat ?

Tidakkah kau rindu pada terang dan sejuknya pagi ?

 

Aku suka pagiku…

Seperti buliran darah, terus mengalir

Aku ’kan selalu rindu pagiku

 

Mana pernah aku berharap seperti bintang ?

Suatu saat bintang akan jatuh

Entah kapan dia ‘kan kembali lagi

 

Pernah berpikir jadi ombak ?

Tidak ada komentar: