ungkapan seseorang yang sedang dalam penantian tentunya beragam, dan ga nutup segala kemungkinan. lha iya tho.. kan banyak hal yg bisa ditunggu? he he.
sekarang sedang dalam masa yang tidak enak, kenapa? karena lagi nunggu lah, kan sebahasan ama kalimat pertama (opo seh?).. memang terkadang apa yang kita rencanakan tidak sesuai dengan kenyataan atau bahkan kemampuan kita mewujudkan kenyataan tsb. banyak diantara kita kecewa dengan pencapaian, dan timbul penyesalan kenapa waktu paling baik terbaang sia-sia.
dan aku mengalaminya.
waktu tadi merenung sendirian, aku sadari bahwa udah kehilangan beberapa masa dimana menikmati hidup. pokoknya idup tanpa penyesalan. sekarang kenapa begini ya?
apa emang rodanya sedang dibawah? nggak paham..
tapi ada 1 hal yang kuyakini sekarang, Allah sedang mengujiku, Dia mau tahu seberapa kuat pertahananku, Dia ingin tau bagaimana aku berjuang melawan (bahkan) diriku sendiri. memang ga mudah, tapi saya percaya ada hal baik dibalik semua yang diajari-Nya dari kenyataan yang aku hadapi ini.
wajar kan seseorang menangis? seseorang menangis ga selalu menandakan bahwa pertahanannya roboh. bahkan dia sedang berada dititik benteng terkuatnya.
sangat umum jika seseorang mengeluh,bukan karena dia ingin menyerah tetapi dia sedang dalam ujian dari salah satu mata pelajarannya dengan Allah. dan aku yakin, Allah tidak pernah meminta hamba-Nya menyerah. well i will not give up then. he he.
heeemm, terimakasih atas media yang diciptakan untuk tumpahan sedikit tulisan ini. jadi kembali bersemangat rasanya. dan memusakan sekali bisa memotivasi diri sendiri. semua aku lakuin ga buat aku sendiri. tapi buat semua orang yg menginginkan aku tetap melangkah, dan akan slalu kuingat mereka ditiap detik hidupku.
selamat malam, kayaknya harus lanjut ngerjain skripsi lagi :)
..kau tidak akan memahami segala sesuatu sebelum membiarkan salah satu indera mengenalinya..
9 Nov 2010
2 Nov 2010
dan saya akhirnya menangis lagi
selama ini, hal yang membuat sensasi menangisku jadi mendrama masih dirajai oleh rasa rindu akan Abah, ayah ku yang sudah meninggal sekitar sepuluh tahun silam. namun akhir-akhir ini, rasanya beban hidup tu kok banyak dan berat banget ya? (sedang labil, hehehe)
alasanku untuk menangis bertambah satu hal lagi, yakni mengenai seberapa besar kekuatanku akan pikulan tanggung jawab, dan tanggung jawab itu bertambah seiring umur yang semakin menunjuk ke angka yang lebih besar (kalo lebih kecil itu adalah berat badan saya, hahaha semoga).
teringat akan hal-hal kecil berharga, membuat saya perlu bikin satu note khusus untuk mengingat jasa-jasa akan "hal tidak penting".. jika itu bener-bener kutulis, berapa lembar buku kebaikan yang udah abis coba? tapi setidaknya, dari buku itu semua yang nantinya membaca bakal sadar, bahwa banyak hal kecil dan baik didunia yang tuhan nilai setiap detiknya dan itu tak disadari sedikitpun oleh kita manusia.
aku, rutinitasku sehari-hari, berhadapan dengan layar ini, dan berjuta kata yang kubaca tiap hari, semua ini atas kebaikan banyak orang. dan yang aku sadari akhir-akhir ini (sangat bodoh, karena baru akhir ini sadarnya) nyawaku dan alasan aku hidup, adalah karena satu dari triliyun kebaikan kecil dari seseorang. kebaikan yang seringkali kuacuhkan, dan kuhempas begitu saja, padahal tuhan menghargainya hingga di surga.
kebaikan seorang mama.
sekarang aku baru sadar, kebaikan beliau tiap hari, doa yang diucapkannya, serta segala ridho yang terbesit dari pikiran mama, adalah yang memberkati aku sepanjang ini.
ma, maaf ya.. belum bisa mencapai titik itu sekarang.
langkah ini masih belum aku pijak dengan kecepatan penuh.
masih tahap dimana mama diminta untuk menunggu.
maaf membuat mama menunggu, maaf membuatmu terus bertanya,
maaf untuk segala sakit yang aku pernah buat, untuk segala luka dari kata-kata,
serta perbuatanku yang tak sepatutnya aku tunjukkan pada mama,
harapanku, dan semoga ini juga teriring didalam doa mama,
agar usiaku sampai hingga pada titik dimana aku bisa membuat mama bahagia,
sampai pada titik dimana mama tak ada penyesalan memilikiku sebagai seorang putri,
seorang manusia yang keluar dari rahim mama.
dan disanalah semua hal bisa aku dapatkan dengan penuh kebanggaan,
semua keinginan mama bukan mama yang mewujudkan,
tapi aku.
aku yang harusnya selalu berbakti dan menunjukkan loyalitasku pada mama,
setidaknya kata-kata seperti itu yang membuatku perlu sadar bahwa mama masih ada untuk memberiku semangat hingga detik ini. lihatlah apa yang mama minta dariku? hanya bukti, bahwa semua yang mama lakuin selama ini bukan sia-sia.
dan semoga tidak lama lagi, itu bakal tercapai, AMIN.
alasanku untuk menangis bertambah satu hal lagi, yakni mengenai seberapa besar kekuatanku akan pikulan tanggung jawab, dan tanggung jawab itu bertambah seiring umur yang semakin menunjuk ke angka yang lebih besar (kalo lebih kecil itu adalah berat badan saya, hahaha semoga).
teringat akan hal-hal kecil berharga, membuat saya perlu bikin satu note khusus untuk mengingat jasa-jasa akan "hal tidak penting".. jika itu bener-bener kutulis, berapa lembar buku kebaikan yang udah abis coba? tapi setidaknya, dari buku itu semua yang nantinya membaca bakal sadar, bahwa banyak hal kecil dan baik didunia yang tuhan nilai setiap detiknya dan itu tak disadari sedikitpun oleh kita manusia.
aku, rutinitasku sehari-hari, berhadapan dengan layar ini, dan berjuta kata yang kubaca tiap hari, semua ini atas kebaikan banyak orang. dan yang aku sadari akhir-akhir ini (sangat bodoh, karena baru akhir ini sadarnya) nyawaku dan alasan aku hidup, adalah karena satu dari triliyun kebaikan kecil dari seseorang. kebaikan yang seringkali kuacuhkan, dan kuhempas begitu saja, padahal tuhan menghargainya hingga di surga.
kebaikan seorang mama.
sekarang aku baru sadar, kebaikan beliau tiap hari, doa yang diucapkannya, serta segala ridho yang terbesit dari pikiran mama, adalah yang memberkati aku sepanjang ini.
ma, maaf ya.. belum bisa mencapai titik itu sekarang.
langkah ini masih belum aku pijak dengan kecepatan penuh.
masih tahap dimana mama diminta untuk menunggu.
maaf membuat mama menunggu, maaf membuatmu terus bertanya,
maaf untuk segala sakit yang aku pernah buat, untuk segala luka dari kata-kata,
serta perbuatanku yang tak sepatutnya aku tunjukkan pada mama,
harapanku, dan semoga ini juga teriring didalam doa mama,
agar usiaku sampai hingga pada titik dimana aku bisa membuat mama bahagia,
sampai pada titik dimana mama tak ada penyesalan memilikiku sebagai seorang putri,
seorang manusia yang keluar dari rahim mama.
dan disanalah semua hal bisa aku dapatkan dengan penuh kebanggaan,
semua keinginan mama bukan mama yang mewujudkan,
tapi aku.
aku yang harusnya selalu berbakti dan menunjukkan loyalitasku pada mama,
setidaknya kata-kata seperti itu yang membuatku perlu sadar bahwa mama masih ada untuk memberiku semangat hingga detik ini. lihatlah apa yang mama minta dariku? hanya bukti, bahwa semua yang mama lakuin selama ini bukan sia-sia.
dan semoga tidak lama lagi, itu bakal tercapai, AMIN.
22 Okt 2010
Menuju Basundara (Panderman's Mountain Top)
ada hasrat yang terpendam untuk menambah postingan blog saya dengan perjalanan yang memberi penuh kesan bagi saya diwaktu silam. dan salah satu perjalanan yang belum terlaporkan (serasa bikin dokumen perencanaan, he he) adalah pengalaman saya bersama beberapa teman masa SMA untuk mendaki Gunung Panderman di Batu Malang.
hmm, untuk tidak mengurangi hasil karya, ada baiknya saya tidak mengubah isi postingan perjalanan yang sebelumnya sudah saya postingkan di akun Friendster saya. blog di akun tersebut penuh dengan cerita perjalanan saya sebenarnya, namun sayangnya sudah sekitar 2 tahun ini situs jejaring tersebut tidak memiliki banyak peminat.
lho, daripada membahas situs jejaring sosial, akan langsung saya kembali suguhkan petualangan kami menuju Basundara (re-post by myself at July 21st 2007).
check this out!
-------------------------------
bener-bener pengalaman yang mengesankan.. siang itu, jam udah menunjukkan pukul 2 lebih sedikit, kami berempat janji berkumpul di sma 3 -bukan mentang-mentang alumni,tapi karena memang gak ada tempat janjian yang lebih pas,mungkin- ketika aku datang, ternyata aswin dan yayak udah duduk2 di ruang tatib, chepi yang ngasi tau..
setelah bercengkrama dikit sama aringga dan seorang adik kelas 11 -sori aku nggak tau nama dia- kami memutuskan untuk berangkat.. sebenarnya kami udah memohon-mohon pada yakong untuk minta diantar ke gerbang panderman, tapi ternyata dia nggak bisa, yasudahlah..hehe.
setelah sepeda chepi n aswin dititipkan di terminal landungsari -saat itu masih lenggang, karena belum jam pulang sekolah+pulang kerja mugkin- kami naik angkot ungu seharga 3rb repes seorang..[yayak kayaknya ga terima dg harga yg menurutnya terlalu mahal-tapi kami gak bgitu mempermasalahkan]
perjalanan begitu panjang. aku nyesel bawa banyak barang karena akhirnya aku sendiri ga kuat, n yayak yg bawain ranselku..hik, maaf yo ring, giring!? hehehe..
malam tiba, dan kami baru saja menanjak di penghabisan jalan aspal -karena panjangnya jalan itu,argh! beban mental bener2!- kami yg hanya bermodal pengetahuan dari pak Ye terus melangkah sehabis melaksanakan sholat maghrib di mushola warga (desa terakhir sebelum pos tiket masuk) kami memutuskan untuk berjalan terus naik ke atas menerobos malam,sering sekali berhenti karena kakiku kram -aku cewek sendiri lo! yaaa maklum kalau manja sendiri, heheheha- setelah sudah merasa mendaki tiga perempat sebuah bagian gunung yang kami yakini itulah puncak panderman, kami baru merasa tersesat karena jalan buntu..
kami kembali lagi menyusuri rute jalur gelap, ke bawah dan bermalam di salah satu ladang kosong yg tidak digunakan -bodohnya kami semua merasa udah berada di latar ombo, tempat beristirahat sebelum mendaki ke puncak, padahal salah kaprah!-
malam kami habiskan untuk makan, merokok, serta pastinya menyiapkan tenaga untuk mendaki lagi besoknya..
banyak bintang dengan jumlah tak terhitung menemani kami mendirikan tenda, menyalakan kompor nesting, memasak mie, sholat isya
-chepi sempat ngeliat bintang jatuh sekali, katanya- hingga kami pergi tidur tanpa sadar karena kelelahan..
[kamera berjuang keras mengabadikan sinar fajar ini.. SUBHANALLAH]
ketika fajar tiba, anak2 sibuk foto2 coz emang sunrisenya indah banget..[dasar narsis].
tepat setengah tujuh kami sudah berpacking dan siap untuk kembali mendaki menuju latar ombo, diiringi perasaan sengsara karena ternyata kami salah jalur hingga harus turun sedikit (lagi) untuk menuju jalur pendakian yang dimaksud..
aaargh!
setelah berjuang keras dan sempat nyasar beberapa kali, kami akhirnya sampai di tempat yang dmaksd Latar Ombo.. yah, ternyata sekitar 2jam perjalanan dari tempat kami kemah. huff.. kami kira udah di puncak, ternyata masih jauhh!
.jpg)
kami melanjutkan pendakian dengan ditemani gunung2 yang lebih kecil di sisi2 pegunungan panderman ini,jauh disisi utara kami berempat bercokol puncak arjuna yang seperti menghina tim kami ini, karena gak kunjung sampai ke puncak.. kurang ajar ya? hehehe
.jpg)
buset,aku gak menyangka jalur menuju puncak basundara bakal segitu berat. kemiringan yang hampir sepuluh derajat memaksa kami climbing di beberapa sisi.. dan aku lebih sering terperosot, hehe. tengs banget buat chepi yg selalu berada di belakangku.
jam menunjukkan pukul 10.30 waktu kami hampir menyerah sehingga bersandar di sebatang pohon,
“ini puncak’e dimana???” tidak ada seorangpun yang tau karena kami berempat memang baru pertama kali mendaki pegunungan ini.. tapi kami terus mendaki ke atas.
setelah melewati dua puncak kecil, tanah yang kami pijak mendatar.. setalah melewati 15 menit perjalanan di padang yang bersemak tinggi, aswin yang berada paling depan, jauh di depan yayak, aku, dan chepi berseru hingga mengagetkan kami, “ALLAHUAKBAR!”
ya.. basundara udah selangkah lagi dari kami.
di puncak basundara hanya ada sebongkah batu bertulisan seperti ini.
kering, gersang, tidak ada satupun pohon tumbuh di puncak, dan kami baru menyadari sesuatu..
Yep,
Kami Berada Di Balik Awan..
ketika turun, kami kehabisan minum dan hampir tak sadarkan diri ditengah jalan,
sungguh amazing mengingat pendakian membutuhkan waktu hampir 4jam, namun ketika turun kami hanya butuh1 setengah jam..
terimakasih basundara..
puncak yang indah. bukan karena pemandangannya, melainkan cara kami mencapainya merupakan perjuangan yang kami gak bisa bayar dengan darah kami sekalipun..
.jpg)
bayangin ae, 4 orang yg gak tau apa2 bisa naik ke puncak pada ketinggian kurang lebih 2000 meter dpl dan bisa sampe turun lagi dengan selamat.. adalah hal yang ga bisa dilakuin tiap hari..
and someday,
aku pengen melakukannya beberapa kali lagi..
hmm, untuk tidak mengurangi hasil karya, ada baiknya saya tidak mengubah isi postingan perjalanan yang sebelumnya sudah saya postingkan di akun Friendster saya. blog di akun tersebut penuh dengan cerita perjalanan saya sebenarnya, namun sayangnya sudah sekitar 2 tahun ini situs jejaring tersebut tidak memiliki banyak peminat.
lho, daripada membahas situs jejaring sosial, akan langsung saya kembali suguhkan petualangan kami menuju Basundara (re-post by myself at July 21st 2007).
check this out!
-------------------------------
bener-bener pengalaman yang mengesankan.. siang itu, jam udah menunjukkan pukul 2 lebih sedikit, kami berempat janji berkumpul di sma 3 -bukan mentang-mentang alumni,tapi karena memang gak ada tempat janjian yang lebih pas,mungkin- ketika aku datang, ternyata aswin dan yayak udah duduk2 di ruang tatib, chepi yang ngasi tau..
setelah bercengkrama dikit sama aringga dan seorang adik kelas 11 -sori aku nggak tau nama dia- kami memutuskan untuk berangkat.. sebenarnya kami udah memohon-mohon pada yakong untuk minta diantar ke gerbang panderman, tapi ternyata dia nggak bisa, yasudahlah..hehe.
setelah sepeda chepi n aswin dititipkan di terminal landungsari -saat itu masih lenggang, karena belum jam pulang sekolah+pulang kerja mugkin- kami naik angkot ungu seharga 3rb repes seorang..[yayak kayaknya ga terima dg harga yg menurutnya terlalu mahal-tapi kami gak bgitu mempermasalahkan]
perjalanan begitu panjang. aku nyesel bawa banyak barang karena akhirnya aku sendiri ga kuat, n yayak yg bawain ranselku..hik, maaf yo ring, giring!? hehehe..
malam tiba, dan kami baru saja menanjak di penghabisan jalan aspal -karena panjangnya jalan itu,argh! beban mental bener2!- kami yg hanya bermodal pengetahuan dari pak Ye terus melangkah sehabis melaksanakan sholat maghrib di mushola warga (desa terakhir sebelum pos tiket masuk) kami memutuskan untuk berjalan terus naik ke atas menerobos malam,sering sekali berhenti karena kakiku kram -aku cewek sendiri lo! yaaa maklum kalau manja sendiri, heheheha- setelah sudah merasa mendaki tiga perempat sebuah bagian gunung yang kami yakini itulah puncak panderman, kami baru merasa tersesat karena jalan buntu..
kami kembali lagi menyusuri rute jalur gelap, ke bawah dan bermalam di salah satu ladang kosong yg tidak digunakan -bodohnya kami semua merasa udah berada di latar ombo, tempat beristirahat sebelum mendaki ke puncak, padahal salah kaprah!-
malam kami habiskan untuk makan, merokok, serta pastinya menyiapkan tenaga untuk mendaki lagi besoknya..
banyak bintang dengan jumlah tak terhitung menemani kami mendirikan tenda, menyalakan kompor nesting, memasak mie, sholat isya
-chepi sempat ngeliat bintang jatuh sekali, katanya- hingga kami pergi tidur tanpa sadar karena kelelahan..
[kamera berjuang keras mengabadikan sinar fajar ini.. SUBHANALLAH]
ketika fajar tiba, anak2 sibuk foto2 coz emang sunrisenya indah banget..[dasar narsis].
tepat setengah tujuh kami sudah berpacking dan siap untuk kembali mendaki menuju latar ombo, diiringi perasaan sengsara karena ternyata kami salah jalur hingga harus turun sedikit (lagi) untuk menuju jalur pendakian yang dimaksud..
aaargh!
setelah berjuang keras dan sempat nyasar beberapa kali, kami akhirnya sampai di tempat yang dmaksd Latar Ombo.. yah, ternyata sekitar 2jam perjalanan dari tempat kami kemah. huff.. kami kira udah di puncak, ternyata masih jauhh!
.jpg)
kami melanjutkan pendakian dengan ditemani gunung2 yang lebih kecil di sisi2 pegunungan panderman ini,jauh disisi utara kami berempat bercokol puncak arjuna yang seperti menghina tim kami ini, karena gak kunjung sampai ke puncak.. kurang ajar ya? hehehe
.jpg)
buset,aku gak menyangka jalur menuju puncak basundara bakal segitu berat. kemiringan yang hampir sepuluh derajat memaksa kami climbing di beberapa sisi.. dan aku lebih sering terperosot, hehe. tengs banget buat chepi yg selalu berada di belakangku.
jam menunjukkan pukul 10.30 waktu kami hampir menyerah sehingga bersandar di sebatang pohon,
“ini puncak’e dimana???” tidak ada seorangpun yang tau karena kami berempat memang baru pertama kali mendaki pegunungan ini.. tapi kami terus mendaki ke atas.
setelah melewati dua puncak kecil, tanah yang kami pijak mendatar.. setalah melewati 15 menit perjalanan di padang yang bersemak tinggi, aswin yang berada paling depan, jauh di depan yayak, aku, dan chepi berseru hingga mengagetkan kami, “ALLAHUAKBAR!”
ya.. basundara udah selangkah lagi dari kami.
di puncak basundara hanya ada sebongkah batu bertulisan seperti ini.
kering, gersang, tidak ada satupun pohon tumbuh di puncak, dan kami baru menyadari sesuatu..Yep,
Kami Berada Di Balik Awan..
ketika turun, kami kehabisan minum dan hampir tak sadarkan diri ditengah jalan,
sungguh amazing mengingat pendakian membutuhkan waktu hampir 4jam, namun ketika turun kami hanya butuh1 setengah jam..
terimakasih basundara..
puncak yang indah. bukan karena pemandangannya, melainkan cara kami mencapainya merupakan perjuangan yang kami gak bisa bayar dengan darah kami sekalipun..
.jpg)
bayangin ae, 4 orang yg gak tau apa2 bisa naik ke puncak pada ketinggian kurang lebih 2000 meter dpl dan bisa sampe turun lagi dengan selamat.. adalah hal yang ga bisa dilakuin tiap hari..
and someday,
aku pengen melakukannya beberapa kali lagi..
Langganan:
Postingan (Atom)
1.jpg)