18 Sep 2013

Semua Terjadi Karena Alasan

Halo! Lama banget aku nggak posting blog ya.

Banyak banget ide mau nulis, tapi bingung mau yang mana dulu yang ingin kutulis. Jadilah setelah undian postingan (uopooo ikii undian postingan jare --") aku tulis sepenggal narasi yang terinspirasi dari sebuah postingan blog yang aku follow milik mbak dokter muda yang cantik, Maretha yakni Luka Tanpa Akhiran.

Jadi aku tuh kepikiran buat membikin satu narasi yang njelasin kelanjutan dari cerita pendek yang bu Dokter bikin..

Nah! Sampe kebawa mimpi segala nih kepengen bikin narasinya.. jadi kalau nggak beneran ditulis bisa keluar jadi angin hahaha :D

Judul postingan blogku ini kupilih "Semua Terjadi Karena Alasan" karena aku membuat narasi ini sambil mendengarkan lagu Band Jikustik berjudul sama. Inspirasinya keluar banget kalo ngedengerin lagu yang sesuai.

Anyway.. semoga Bu Dokter ga marah aku kembangkan ide cerita yang dia punya menjadi kaya gini yah. Semogaaaa... He he he

Oke here we go.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------



Langit senja mulai berubah merah, berubah seperti seharusnya dia. Kulihati perubahan langit itu lekat-lekat, menengadah mengagumi indahnya kejadian sore. Menikmati perubahan warnanya, dari terang hingga gelap. Hal yang biasa kulakukan sejak aku kecil. Kebiasaan yang membawa banyak kenangan, manis sekaligus begitu pahit.

Meski langit telah gelap, kepalaku tetap menengadah melihat keatas ambil kembali mengingat masa lalu, masa kecilku, dan sadar bahwa ini langit yang sama meskipun berada pada koordinat yang sedikit berbeda dari yang dulu. Langit disini lebih berwarna kurasa. Lebih indah disini, karena lebih lama aku bisa menikmati warna merahnya berubah menjadi jingga. Yang sebenarnya bahwa menikmati perubahan warna sama saja dengan membuka perban lukaku yang tak akan kutahu kapan akan sembuh.

Sudah tiga atau lima jalur bis melewati perhentianku berdiri, tak satu bis pun kupilih. Hanya kulihati saja dia berhenti, saling pandang dengan sang supir yang tentunya mengira aku akan naik, lima menit berlalu dan pergi.

Terminal Bus Sentral Konakadai memang sebuah persimpangan sempurna untuk siapapun yang ingin melakukan perjalanan jauh. Tepat didepan pemberhentian bis sentral, kita bisa langsung berpindah moda ke beberapa line subway yang tersedia. Ingin kemana, tinggal pilih saja. Sayangnya aku sedang ingin disini. Warna langit senja diantara tingginya gedung-gedung tengah kota kecil ini lebih menarik perhatianku.

Kebiasaan baru yang kupunya disini adalah menikmati senja ditengah keramaian dan padatnya orang-orang pulang kerja. Dan taman kota di simpang terminal bus sentral Konakadai merupakan tempat yang cocok untuk melakukan hal yang aku senangi. Kebetulan sekali kelas kuliahku berakhir menjelang sore, sehingga saat turun dari line subway Konakadai aku langsung bisa menuju sudut taman kota persimpangan favoritku.

Aku lukis kembali senja yang kupandangi dengan pensil warnaku, Berbeda dengan yang lalu, pemandangan lukisanku kini berubah. Gedung-gedung tinggi penghiasnya, tak jarang juga burung gagak beterbangan, entah berpindah sarang atau mencari pasangannya.

Inilah halaman kehidupan baruku, halaman baru yang berusaha sekuat tenaga menginjak luka dan menutupi dengan lembaran berbeda. Namun meski dia telah tertutup, tetap saja warna-warna senja membuatku ingat akan lukaku. Haha, bodoh? Biar saja.

Aku seorang laki-laki, dan seharusnya aku bisa segera bangkit kembali setelah apa yang aku alami. Kenyataannya tidak, aku tetap mengingat luka dan kebodohanku. Terkadang menertawakannya, lalu tiba-tiba sesaat tenggelam bersedih.

Aku seorang laki-laki, tapi sangat berat untuk lupa dan menyembuhkan luka yang aku punya. Mungkin memang tidak untuk dilupakan, tapi mungkin memang untuk dibawa pergi kemanapun aku ingin pergi. Kenyataannya memang begitu, aku membawa luka ini hingga jauh keseberang sekarang. Mulai berharap luka ini bisa sembuh dengan sendirinya disini. Aku memilih untuk tidak melupakan lukaku. Luka yang semakin diingat semakin terasa menganga ini, pada akhirnya.

Aku tidak jarang melarang pikiranku untuk ingat, tapi kenangan itu tidak sengaja merasuk hadir dan menghancurkan lagi hatiku. Berusaha untuk mengalihkan pikiran, aku malah membayangkan berhadapan dengan sang penyayat hati. Sekali menanyakan kabarnya dan takdir macam apa yang mungkin membuat kami bertemu lagi. Tidak kupungkiri memang aku masih mempunyai rasa rindu yang dalam pada dia. Meski tidak lagi diperbolehkan. Maka cepat-cepat kuselesaikan gambarku, dan keramaian persimpangan ini semakin membuatku kehilangan konsentrasi.

Orang-orang dengan kesibukannya masing-masing berlalu lalang tak henti sepanjang sore sedari tadi aku duduk disini. Ramai sekali halte bus sore ini. Mereka yang pulang dari tempat kerja dan segera ingin berjumpa dengan hangatnya rumah dan keluarga saling mempercepat langkah, sama sekali tidak melihat satu sama lain. Tidak peduli satu sama lain.
Hal yang sudah biasa kulihat disini, tepatnya sejak setahun lalu aku disini.

Tak lagi memperhatikan bus yang terus menerus datang dan pergi membawa penumpangnya ke berbagai jurusan, aku memperhatikan satu per satu orang yang lewat didepanku. Setelah sedikit lengang, kuarahkan kaki menuju mesin fending beberapa langkah dari tempatku duduk. Musim panas disini memang menelan uang dari saku setiap orang untuk setidaknya membeli minum dijalan. Suhu yang tidak acuh pada kulit manusia membakar empat belas jam lamanya dalam sehari.

Sadar bahwa langit sudah berubah gelap, aku putuskan berjalan pulang menuju dormitory yang tempatnya tidak begitu jauh dari terminal bus sentral. Lima belas menit saja berjalan kaki.

Disini orang-orang terbiasa pergi atau pulang menuju rumah, sekolah, atau tempat kerja dengan berjalan. Tak berbeda denganku, jalan kaki sudah merupakan kebiasaan sekarang. Aku merasa sangat menikmati saat aku berjalan kaki karena banyak ide dan hal-hal positif yang muncul. Perlahan namun pasti, aku yakin luka ini akan menjadi pijakan langkahku dalam kehidupanku kini.

Sakit pasti, tapi kupaksakan lega melihat orang yang begitu kucintai sepanjang hidupku sudah berbahagia.


7 Jul 2013

Japan 2013 : Omongan Sambil Lalu Yang Didengar Tuhan

Beberapa orang bilang, mimpi hanya mimpi. Nggak lebih.

Tapi.. Buatku, untuk beberapa hari ini, dan akan menjadi seterusnya, mimpi bukan lagi hanya sekedar mimpi. Itu benar-benar terwujud dihadapanku.

Banyak orang di dunia merasa bahwa hidup mereka selalu mengikuti arus yang ada, dan, tidak berjalan sesuai dengan apa yang mereka selalu gambarkan dibawah alam sadar mereka.
Well, kurang lebih saya juga sebenarnya.

Kalo ditanyain apa yang menjadi tujuan hidup saya, saya nggak akan bisa menjawabnya dengan tegas. 

------------------------------------------------- stop for a moment ----------------------------------------------

Hari ini dilanjutkan dengan sedikit galau, sedikit sedih, sedikit senang, bangga, rindu yang tiba-tiba, dan juga mata yang berkaca-kaca. Kenapa hidup selalu berjalan tanpa sesuai kehendak kita?

Mungkin jawabannya adalah karena, ketika suatu sistem bekerja sesuai dengan perasaan maka garis yang dia ciptakan tidak akan sepenuhnya lurus.

Ketika kita memulai sebuah fase dalam kehidupan kita, hal yang kita ungkap pertama kali saat fase tersulit adalah "Yah, emang sulit". Jadi saya menganggap keluhan itu wajar.

Sudaaaaaaaaaaaaah, cukup preambule berfilsufnya.
Postingan kali ini aku kepingin bercerita hal yang sedang aku alamin sekarang. Hal yang terjadi (nggak) diluar nalar, tapi memintaku untuk lebih dan lebih lagi sadar..bahwa Tuhan sayang padaku.

Aku punya seorang kawan karib yang kukenal semenjak SMU, sebutlah namanya si Ndul.
Kami semenjak lulus SMA sudah tidak berada di lingkungan yang sama. Eh~ sempat sih, 1 universitas selama kira-kira kurang dari 1 semester. Lalu dia pindah, menuntut ilmu yang jauuuh lebih tinggi, di Jepang.

Well, semenjak saat itu kami jarang sekali bertemu. Kami berkomunikasi via messenger dari seluler dan komputer, serta melakukan banyak obrolan dan hal-hal yang tidak penting melalui fasilitas dunia maya tersebut. He he he.

Bagaimana mungkin kami tidak melakukan hal-hal unimportant? 
Kami jarang sekali lho bisa bertemu. Tahun-tahun kemaren, Ndul jarang sekali pulang ke Indonesia.
Sudah pasti, dia selalu merindukan negerinya dan bagaimana dia hidup di kota tercinta, Malang.

Lalu aku meninggalkan Malang juga akhirnya untuk menapaki hidup baru sebagai mahasiswa magister di Kota Sejuta Cinta, Jogjakarta. 

Makin sulit bagi kami untuk bertemu. 1 tahun yang lalu misalnya, saat dia pulang ke Indonesia aku bahkan belum bisa pulang ke Malang. Jadi kami tidak bertemu. 
Sudah lebih 2 tahun tidak bertemu dan saat itu kami tidak tahu kapan akan bertemu lagi.

Sempat aku bercerita padanya, bahwa ada kesempatan untukku bertemu dengan dia di Jepang. 
Yep. Ada kesempatan double-degree untuk jurusanku S2 di Jepang. Tapi kecil sekali itu bisa terjadi, karena kebetulan konsentrasi yang disediakan berbeda dengan tema thesisku nanti. 

Sempat sedih, tapi dengan penuh keyakinan saat itu aku berkata padanya,
"Tenang ae, ngko tak susul kowe nang kono! Mbuh piye carane, tapi pasti aku mrono!" (tenang  Ndul, nanti kamu akan kususul gak tahu gimana caranya, tapi pasti kesana!)

Hahaha, kalimat itu serasa tidak ada artinya buatku saat itu. Hanya ingin berharap "mimpi" itu terwujud, tapi dengan waktu yang entah kapan.
And suddenly, tawaran short trip exchange ke Univ Chiba datang.

So here I am now. Menikmati udara yang sama dengan Jendul. 
Udara Jepang.

me and the newest view of Tokyo Eki - Tokyo Main Station - Juli 2013
Inilah aku, mengunjungi tempat-tempat yang bahkan selama ini tidak pernah aku impikan untuk datangi karena terlalu tingginya impian itu, 
hingga aku memilih untuk menguburnya dalam-dalam.

Tempat dimana doa-doaku untuk dia kuarahkan.
Tempat yang selama ini ingin sekali kugambarkan dengan mataku sendiri dari gambaran-gambaran ketikan-ketikan messenger-nya padaku seringkali. Namun aku memilih untuk menguburnya dalam-dalam.

view Tokyo Skytree dari apartemen Jendul - Juli 2013

Tempat dimana dia berjuang untuk hidupnya yang berat diawal perkuliahan, diawal-awal hingga akhir tahun kelulusan sekolah "super tinggi"-nya di Jepang. 
Tempat dimana seluruh tangis dan tawanya dia jatuhkan sekeras gravitasi negeri Sakura.

Tempat yang juga jadi impian sang Ksatria, dan oleh karenanya menjadi tempat penuh tanda tanya bagiku..well, sulit untuk menjelaskannya dalam kata-kata.

Hingga kini aku tahu bagaimana Tuhan bekerja dan berkehendak dari doa-doa yang kulayangkan padaNya, diantara harapan kami. 
Kini aku tahu bagaimana Tuhan menyayangiku, menyayangi dan selalu melindungi si Ndulah dimanapun dia berada.

Kini aku tahu, apa yang mama harapkan padaku dari doa-doa beliau. 
Setiap dia menengadahkan tangan dan berkomat kamit tanpa aku paham apa yang beliau ucapkan. 

Kini aku tahu bagaimana harus berterimakasih padaNya.
Sebuah hadiah dariNya, yang sangat menyayat hati sekaligus sangat amat menyenangkan bagiku di pertengahan 2013 yang penuh kesempurnaan.

Dan inilah, kalimat yang entah kapan bisa kuwujudkan, 
akhirnya secepat ini bisa terwujud oleh kuasaNya.

Thanks Ndul, wow suddenly I miss having moment with you Ndul =((


and.. Have a nice day, Chiba!



5 Jun 2013

Punggungmu, Ksatria.

Halo, ketemu lagi denganmu...
another -mu, -mu, dan -mu..

Semacam harus bertahan untuk menahan rasa ini agar kamu nggak tahu. Tapi bodoh juga rasanya lama-lama menyimpannya. Aneh, namun nyata. Kalau kata Taylor Swift sih, kupu-kupu di perut beterbangan lagi menyambutnya. Setiap kali pengakuan itu ada.

Aku selalu bangga menyebutmu Sang Ksatria Perjalanan. Iya, seperti tulisanku yang lalu yang mungkin tidak kau baca. Hehe, aku yakin belum kamu baca deh. Well, aku bangga menyebutmu begitu. Sang Ksatria Perjalanan.

Kenapa?
Yap mari aku ceritakan sedikit.

Aku jatuh cinta saat berjalan bersamamu. Beriringan, menuju satu atau beberapa tempat random. Kita berdua kadang saling membisu dengan pikiran masing-masing, namun malah kadang tidak ada yang mau mengalah untuk membuka topik lebih dulu. Ramainya, meski hanya berdua.
Lalu aku sadar, hidupku tidak akan seramai itu tanpamu.

Aku jatuh cinta menatap punggungmu. Tegap, meski aku selalu menelan kata "tegap" itu mentah-mentah agar tidak terucap padamu, terucap didepanmu. Kokoh, namun menurutku rapuh di beberapa sisi. Merasa beruntungnya, hanya aku (mungkin) yang mengetahui seberapa rapuh punggung itu menopang nyawa pemiliknya.
Punggung yang akan selalu kurindukan, yang nggak pernah mau ngalah kalau jalan, yang selalu berkoar-koar kalau langkahnya lebih panjang dariku (yaiyalah!).
Lalu aku sadar, aku belum sekalipun menghadirkan punggungmu dalam dunia mimpiku di kota indah ini.

Aku jatuh cinta pada momen-momen itu, momen indah, berharga, manis, biasa aja, sampai momen yang paling kubenci.. bersamamu.Semuanya indah, semuanya kuingat lekat-lekat dikepala.

Tak tahukah kamu kalau aku menangis di ruanganmu saat sadar kita akan terpisah, dulu?
Tak tahukah kamu Ksatria-ku, aku mengamini semua doa dan cita-citamu. Semoga Allah segera mengabulkannya.
Tahukah? Allah memberiku satu misteri yang tak bisa kupecahkan hingga detik ini.
Misteri yang membuatku kembali mengingat "Janji 20 Tahun Lagi"-ku dengan Aidya, terangkat ke permukaan. Janjiku untuk menyatakan cinta ini padamu, di tahun ke-20.

Aku menghitung mundur, untuk mewakili mimpi-mimpi, tuk memenuhi mimpimu.
Aku menghitung mundur, dan tetap bertanya dalam hati, apa ini rahasia Allah untukku?
Aku menghitung mundur, beberapa waktu dari sekarang, untuk menuju Kota Tone River.

Serasa ingin menangis menyadari Allah menunjukkan hal-hal yang tidak kupahami. Serasa ingin selalu membagi pertanyaan ini ke kamu, namun aku takut kamu akan tidak enak hati.
Akhir kata, selamat bersibuk ria menuju Tugas Akhir ya, Ksatria :)