Aku menjumpainya di suatu siang yang panas, diantara ratusan yang lain. Dia melihatku, tahu bahwa ini diriku, tapi aku tak mengenalnya. Kami berjumpa dan saling mengenal di satu siang yang tak penting, mungkin pula sudah dilupakannya.
Tata, itu namanya. Nama yang awam, dan sedangkal aku mengenalnya. Beruntung saja bukan Toto, Joko, Agus atau nama laki-laki lainnya. Karena dari apresiasi pertama, Tata tampak begitu tomboy dan aku seperti berkaca akan beberapa bagian diriku pada Tata. Seperti aku, seperti ini kiranya sekarang.
Tata, seperti yang belum aku ketahui pada dirinya sebelumnya, memiliki banyak kisah dan perjalanan yang berliku. Tidak Normal.
Tampak luar senormal mungkin, namun hidupnya, dan jalan yang dipilihnya adalah hal yang tidak akan kupilih dari segala hal yang diajarkan kepadaku sejak aku merangkak.
Mungkin karena aku mengenal dirinya saat usia ini mulai dituntut untuk bersikap dewasa, sehingga perspektif mulai meluncur kesana dan kemari. Menggunung pertanyaan dibenak ini, yang nanti terjawab dengan sendiri seiring aku mengenal Tata, kawanku itu.
Ceritanya bukan cerita yang didengar oleh banyak orang, namun seketika diketahui berbagai lapisan dan jenis orang. Meski tidak sempurna, tapi aku banyak belajar dari sikap dia melaluinya.
Caranya bertahan..
Caranya mengeluarkan argumen saat bimbang..
Bertahan saat tidak ada yang berpihak padanya..
Perilakunya yang penuh sontak dan kejutan..
Meski tidak ada yang bisa dijadikan teladan -menurut hematku-, tapi aku mengagumi ketegarannya. Kekaguman ini tidak datang dengan sendirinya, Perlahan, dan ketika aku tahu bahwa hidup Tata tidak sesempurna saat umur kami masih berkesempatan untuk memperbaiki apa yang ada dulu, tapi dia berjuang untuk menjadi dia yang dulu. Tata yang hidup saat semua baik-baik saja. Perlahan, aku tahu bagaimana cara bersyukur dan menghargai nikmat dari segala lika-liku hidup. Menikmati jalan yang dipilihNya, jalan yang aku pilih, beserta hambatan yang terlalui. Dia yang menjadi satu dari beberapa acuan besarku bersyukur saat sakit, bersedekah saat merasa sangat tak mampu, mengucap hamdalah saat terundung duka dan bersujud memohon ampun atas salah, juga masalah hidup.
Uraian ini tidak untuk menjelaskan tentang lika-liku hidup Tata.
Uraian ini hanya ingin menggambarkan alasan kenapa aku merindukan sosoknya. Sudah beberapa tahun ini kami tidak berjumpa. Bahkan saat aku berkunjung ke tanah kelahirannya yang selalu dia banggakan saat dulu kami bercanda, kita tak sempat bertemu disana. Sayangnya.
Senang mengetahui bahwa dia baik-baik saja disana, bersama keluarga kecil yang dia bangun dari sisa kekuatan hati. Senang pula dia belajar dan terus belajar untuk mempertebal iman dan ihsan disana, dari sini aku hanya mampu mendoakan yang terbaik untuknya. Amien.
..kau tidak akan memahami segala sesuatu sebelum membiarkan salah satu indera mengenalinya..
13 Jul 2012
5 Mei 2012
Saatnya Membuang Kenangan, Namun Membiarkannya Tersisa
masih tergambar jelas moment dimana kau dan aku pertama kali saling mengenal..
masih teringat jelas, kita belum saling bertegur sapa..
masih saja, ada ulangan kejadian,
segala hal tentangmu dikepalaku..
kini lewat berpuluh bulan,
dan segalanya nampak jelas di satu sisi..
sementara dia semakin rapuh disisi lain..
saat dimana aku makin sadar,
kita tak akan semampu itu untuk saling menguatkan..
berkali aku teriakkan pada hatiku sendiri,
perasaan ini salah!!
dia memang.. mengakuinya, tapi tak mampu menanggalkan rasa itu setelahnya..
kembali lagi dan tertegun lagi.
menahun sudah aku mencoba mengalah dari anggapan orang,
bahwa aku bodoh dan salah karena bertahan..
dan engkau makin tidak peduli,
kita makin jauh.
tepat saat awan gelap datang, aku menyerapahinya,
"jika Kau turunkan hujan, maka perjuangan ini tak layak kulanjutkan"
tapi hujan tak turun..
dia turun sebentar hanya untuk memperingatkanku,
kau..yang dungu..
kau sedang mencaci Tuhanmu!
lalu aku tertegun dengan senyum simpul,
maka pertahananku masih dilanjutkan.
sekuat tenaga aku berusaha tak menyampaikan,
hingga engkau membelokkan,
mengira ini bukan untukmu..
aku menangis dalam diam.
aku yang tak pernah berharap kau berubah untukku,
menangis dalam diam karna kau sakiti, tanpa kau sadari..
tersenyumlah dan kembali lagi ketika kepura-puraanmu usai,
dan kita bisa bersama lagi melihat sunrise,
yang terbiasa kau suguhkan padaku dulu,
diujung tembok cederaku..
selamat ultah, chevalier :)
30 Apr 2012
Saya Terkena Wabah Itu Deh Akhirnya..
Lama sekali tidak menulis disini, hehe. Sekedar info, beberapa minggu dalam 2 bulan ini saya sedang sibuk mengurus masa depan (eciye, masa depaan). Jadi yaa maaf kalau nggak setia dengan blog lagi untuk beberapa waktu ini. Sebisa mungkin terus mencari tema untuk menulis di blog kok tapinya.
Nah, tema yang mau kutulis sekarang ini udah sedikit kadaluwarsa sepertinya. Tapi karena baru mengalami, jadi gak apa kan untuk dibagi? Hehe.
Beberapa waktu lalu, hampir berbarengan dengan isu kenaikan BBM, muncul wabah hewan yang sebenarnya awam, namun karena kondisi cuaca dan iklim Indonesia yang tidak menentu, membuat hewan ini bertambah banyak dan menyebar drastis. Ya itulah dia, si Tomcat.
Sekilas dari yang sempat kubaca mengenai serangga ini, Tomcat atau Kumbang Rove ini memiliki nama lain atau nama spesies Paederus fuscipes, dia ini
termasuk dalam Famili Staphylinidae, Ordo Coleoptera (murniii baca dari web.. maklum biologi saya dapat jelek hehe).
Si Tomcat mempunyai panjang tubuh kisaran 10 mm dengan lebar kisaran 2mm. Ciri yang
mencolok dari serangga Tomcat itu adalah warna hitam dan merah. Nah, selain itu yang mencolok adalah sayap
depan (elitra) yang pendek, hanya menutupi sebagian abdomen. Orang-orang dibeberapa tempat memanggilnya dengan kumbang AC-Milan, Semut Loreng, dan saya jujur baru tau kali ini kalau hewan itu namanya Tomcat, hehehe.
Serangga
dewasa Tomcat dapat terbang dengan baik dan pada saat tidak terbang sayap
belakang terlipat di bawah sayap depan. Tapi kalau dilihat dengan mata telanjang, si Tomcat akan terlihat seperti tidak memiliki sayap karena sayapnya keciil..
Oke, cerita bermula saat beberapa minggu silam tiba-tiba Edo, adik kandung saya satu-satunya menderita gatal-gatal diatas kulit perutnya. Pertamanya sih Mama mengira itu karena tempat tidur Edo sudah waktunya dijemur. Selang beberapa hari setelah kejadian itu, saya menemukan serangga yang orang-orang sebut Tomcat ini, di spon mandi saya. Antara kaget dan ter-Oh-Oh, saya masukkan serangga itu di plastik. Saat itu saya belum yakin benar kalau itu Tomcat. Iseng saya foto, dan bagikan di grup WhatsApp, dan benarlah itu yang namanya Tomcat.
Si Serangga Tomcat pertama itu hanya bertahan beberapa hari didalam plastik, kemudian saat dia lemah dan sudah malas bergerak (mungkin karena belum makan dan lagi ga ada temennya didalam kurungan) akhirnya Mama membawa ke kantor untuk ditunjukkan ke teman-teman beliau.
Selang berapa lama kejadian Tomcat itu, hingga saya sudah lupa kalau pernah melihatnya, tadi pagi saat Edo mau mandi, dia menemukan kawan-kawan Tomcat disana. Tapi kali ini lebih dari seekor, ada dua ekor sedang berjalan-jalan di dinding kamar mandi.
Saya coba ambil fotonya dengan sejelas mungkin nih. Kalau jelek mohon dimaklumi yah, maklum belum punya kamera dengan lensa fokus yang baik. He he.
| Tomcat di Malang |
| Tomcat dari camera saya |
Kalo boleh jujur, saat wabah tomcat itu beredar, saya langsung berusaha menenangkan kepanikan kawan-kawan saya terutama yang di Malang. Kenapa? Dari yang saya baca, serangga ini lebih banyak hidup di daerah pesisir atau dekat dengan pantai. Terbukti dengan wabahnya yang beredar pertama di Surabaya lho.... Waah sungguh diluar dugaan kalau perkiraan saya selama ini adalah salah. Si Tomcat mampir juga ke Malang ternyata. He he he
Web-web pertanian yang daerahnya terkena wabah serangga ini berulangkali menjelaskan bahwa serangga ini tidak berbahaya, ASAL penanganannya tepat. Jadi ketika kita menemukannya, sebisa mungkin jangan membuat dia terancam bahaya. Setidaknya secara langsung gitu. Asal tau saja, serangga Tomcat ini bahkan memiliki simbiosis menguntungkan lho bagi petani. Meskipun kita menyebutnya wabah, hama atau apalah, tapi ternyata dia bertugas memangsa hewan-hewan hama padi yang kecil lho, yang petani terkadang kesulitan untuk membasmi.
Kalau kamu yang sedang baca, menemukan serangga Tomcat ini didekatmu, jangan dipegang! Kontak dengan kulit yang terlalu lama, apalagi kamu berniat mau menangkapnya seperti apa yang saya lakukan ini mending tidak dipegang langsung. Karena menurut apa yang saya baca, Tomcat baru akan mengeluarkan racunnya yang menyebabkan gatal-gatal sampai berlendir itu kalau dia sedang dalam keadaan terancam. Kalau kamu sudah terlanjur berkontak kulit dengan serangga ini, segera kamu obati dengan salep semacam Inerson, atau salep pencegah radang lain yang banyak di apotek-apotek. Kulitmu yang terkena racunnya, atau gatal-gatal jangan digaruk untuk mencegah penyebarannya ke bagian tubuh lain.
Sekian posting tentang Tomcat kali ini, terimakasih sudah mampir di blogku :)
Langganan:
Postingan (Atom)